Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT campak masih kerap dianggap sebagai infeksi ringan pada anak yang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa di balik gejala demam dan ruam, campak menyimpan risiko komplikasi serius yang dapat menyebabkan kecacatan permanen hingga kematian.
Ketua Jawa Barat IDAI sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropik IDAI Anggraini Alam menegaskan bahwa anggapan campak sebagai penyakit biasa merupakan kekeliruan yang berbahaya. “Campak itu kadang-kadang dianggap hanya ah ringan, hanya demam ada ruamnya,” ujarnya dalam media briefing IDAI, Sabtu (28/2).
Menurut dia, komplikasi campak dapat menyerang berbagai organ tubuh anak. Salah satu yang paling sering terjadi adalah infeksi paru atau pneumonia. Bahkan, sebagian besar anak yang dirawat di rumah sakit akibat campak mengalami keterlibatan paru-paru.
“Dikatakan 77 persen anak yang ke rumah sakit itu campaknya sampai mengenai parunya,” kata Anggraini.
Pneumonia menjadi penyebab utama kematian pada kasus campak. Ia menyebutkan sekitar 86 persen kematian akibat campak berkaitan dengan komplikasi tersebut. Pada kondisi berat, pasien dapat memerlukan bantuan ventilasi mekanik akibat gangguan pernapasan.
Selain menyerang paru-paru, campak juga dapat menimbulkan gangguan pada telinga yang berisiko menyebabkan ketulian permanen apabila terjadi kerusakan gendang telinga. Infeksi ini juga dapat memicu diare berat yang berujung pada dehidrasi dan kematian bila tidak ditangani dengan cepat.
Dampak lain terlihat pada kesehatan mata anak akibat penurunan kadar vitamin A dalam tubuh. Dalam kasus tertentu, kondisi ini dapat menyebabkan kekeringan kornea hingga kebutaan.
Komplikasi paling berbahaya terjadi ketika virus menyerang sistem saraf pusat. Infeksi campak dapat menyebabkan radang otak atau ensefalitis yang memicu kejang, koma, hingga kematian dalam waktu singkat.
“Nah, ini juga termasuk kejang. Dikatakan dari 100 yang kena campak itu akan kejang. Tentunya ini bukan kejang demam biasa. Sangat bisa karena si virus campaknya yang ke otak sehingga bisa menimbulkan kematian,” jelasnya.
Dampak jangka panjang campak bahkan dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal. Salah satu komplikasi yang ditakuti adalah Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan saraf progresif yang dapat timbul beberapa tahun kemudian dan bersifat fatal.
Anggraini menjelaskan bahwa anak yang mengalami komplikasi saraf akibat campak biasanya menunjukkan gejala penurunan kemampuan belajar hingga gangguan gerakan sebelum akhirnya mengalami kemunduran kondisi secara progresif. “SSPE itu bukan sekarang, tetapi next. Bahkan dikatakan bisa 23 tahun setelah terkena campak,” katanya.
Selain itu, campak juga diketahui menyebabkan fenomena immunological amnesia, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh anak kehilangan memori terhadap infeksi yang pernah dilawan sebelumnya. Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit lain selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah sembuh dari campak.
Kelompok anak dengan gizi buruk, belum mendapatkan imunisasi, atau memiliki penyakit penyerta disebut sebagai populasi paling berisiko mengalami komplikasi berat akibat infeksi ini.
Dengan tingginya potensi komplikasi tersebut, IDAI mengingatkan pentingnya pencegahan melalui imunisasi guna melindungi anak dari dampak jangka pendek maupun jangka panjang penyakit campak. (Ata/I-1)
IDAI mendorong daycare mematuhi regulasi PAUD dan standar nasional untuk mencegah kekerasan anak serta memastikan tumbuh kembang yang optimal.
Setiap lembaga pengasuhan anak wajib menyediakan fasilitas yang dapat dipantau langsung, seperti CCTV, agar orang tua memiliki akses terhadap apa yang terjadi pada anaknya.
Guru daycare diharapkan memiliki kompetensi pemenuhan kesehatan anak, termasuk apabila terjadi kecelakaan seperti tersedak, tersetrum, dan sebagainya.
IDAI menegaskan bahwa daycare atau Taman Penitipan Anak (TPA) seharusnya dipahami sebagai tempat pengasuhan, bukan sekadar tempat menitipkan anak.
Campak kembali mengancam anak-anak di Indonesia. IDAI ungkap satu penderita bisa menulari hingga 18 orang, risiko pneumonia hingga kematian meningkat.
IDAI menyatakan vaksin influenza trivalen aman bagi balita mulai usia 6 bulan, ibu menyusui, dan komorbid. Simak dosis dan rekomendasi WHO terbaru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved