Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RENDAHNYA cakupan imunisasi di sejumlah daerah dinilai menjadi pemicu utama meningkatnya kasus campak hingga berujung Kejadian Luar Biasa (KLB). Kondisi ini menunjukkan masih lemahnya kekebalan kelompok di berbagai wilayah.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa campak merupakan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Ia menilai penyakit tersebut seharusnya tidak lagi menimbulkan korban jiwa apabila cakupan vaksinasi tercapai secara optimal.
Ia mencontohkan kasus kematian akibat campak di Kabupaten Sumenep pada 2025 yang merenggut 20 nyawa. Peristiwa itu menjadi bukti bahwa kekebalan komunitas di masyarakat belum terbentuk secara memadai.
“Problem di masalah campak ini sebetulnya adalah di cakupan imunisasi. Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar Piprim dalam median briefing IDAI, Sabtu (28/2).
Menurut dia, meskipun program imunisasi disediakan secara gratis, berbagai kendala masih menghambat pelaksanaannya di lapangan. Hambatan tersebut antara lain keterbatasan akses layanan kesehatan, gangguan sistem rantai dingin atau cold chain yang menyebabkan vaksin rusak, hingga penolakan masyarakat terhadap vaksin atau vaccine hesitancy akibat beredarnya informasi keliru.
Ia menjelaskan, apabila cakupan imunisasi tidak mencapai ambang batas pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok, potensi kemunculan kasus campak akan meningkat di berbagai wilayah.
“Sehingga ketika cakupan imunisasi tidak cukup untuk herd immunity, untuk kekebalan komunitas, maka mulailah bermunculan campak ini,” katanya.
Piprim mengingatkan bahwa tingkat penularan campak jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19. Karena itu, dibutuhkan cakupan imunisasi yang tinggi agar penyebaran penyakit tersebut dapat dicegah secara efektif.
Penurunan cakupan imunisasi hingga sekitar 60 persen disebut sudah cukup untuk memicu terjadinya KLB di sejumlah daerah. Ia menambahkan, pengiriman tenaga medis tanpa diimbangi ketersediaan vaksin tidak akan efektif menekan kasus campak. Gangguan distribusi maupun kerusakan vaksin dapat berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah kasus.
IDAI menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer serta memastikan cakupan imunisasi tetap tinggi guna mencegah munculnya kembali wabah campak di berbagai wilayah.
"Selain imunisasi, perbaikan asupan nutrisi terutama protein hewani serta peningkatan deteksi dini juga menjadi langkah penting dalam menekan risiko komplikasi berat seperti pneumonia pada anak," ucap dia. (Ata/I-1)
IDAI mendorong daycare mematuhi regulasi PAUD dan standar nasional untuk mencegah kekerasan anak serta memastikan tumbuh kembang yang optimal.
Setiap lembaga pengasuhan anak wajib menyediakan fasilitas yang dapat dipantau langsung, seperti CCTV, agar orang tua memiliki akses terhadap apa yang terjadi pada anaknya.
Guru daycare diharapkan memiliki kompetensi pemenuhan kesehatan anak, termasuk apabila terjadi kecelakaan seperti tersedak, tersetrum, dan sebagainya.
IDAI menegaskan bahwa daycare atau Taman Penitipan Anak (TPA) seharusnya dipahami sebagai tempat pengasuhan, bukan sekadar tempat menitipkan anak.
Campak kembali mengancam anak-anak di Indonesia. IDAI ungkap satu penderita bisa menulari hingga 18 orang, risiko pneumonia hingga kematian meningkat.
IDAI menyatakan vaksin influenza trivalen aman bagi balita mulai usia 6 bulan, ibu menyusui, dan komorbid. Simak dosis dan rekomendasi WHO terbaru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved