Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengatakan faktor gaya hidup yang menjadi kebiasaan orangtua akan menurun kepada anak lebih dominan daripada faktor genetik yang menyebabkan anak terkena diabetes tipe 2.
"Jadi kadang-kadang kan kita suka nyalahin faktor genetiknya ya, padahal males olahraga, yang sering ngemilnya, jenis pola makan yang sama itu yang kemudian jauh lebih berbahaya daripada faktor genetiknya saja," kata Piprim, Sabtu (31/5).
Piprim mengatakan, pola gaya hidup lebih penting untuk dikendalikan daripada hanya mengendalikan faktor genetik karena anak akan mengikuti kebiasaan aktivitas dan apa yang dikonsumsi orangtua.
Meskipun orangtua memiliki riwayat diabetes, anak keturunannya bisa menjadi tidak mengidap diabetes jika sejak awal diterapkan gaya hidup sehat dalam keluarga seperti tidur cukup, olahraga teratur dengan intensitas yang cukup, puasa intermittent, dan memperbaiki pola makan dengan tinggi nutrisi, tinggi protein hewani dan membatasi konsumsi gula dan karbohidrat cepat serap
Piprim juga mengatakan anak harus dibiarkan bergerak sebagai bagian dari rutinitas fisik harian agar tetap aktif dan sehat. Rutinitas bergerak juga jangan dihalangi dengan distraksi gadget yang membuat anak menjadi malas bergerak.
Hal ini juga sebagai stres relief anak agar tidak menjadi timbunan penyakit di kemudian hari.
"Karena stres kronik, orang yang overthinking itu juga bisa bikin banyak penyakit. Makanya bagaimana supaya nggak overthinking, olahraganya dosisnya masih cukup. Jadi kalau orang dibikin stres secara fisik, stres psikisnya akan berkurang," katanya.
Piprim mengatakan di Indonesia prevalensi anak dengan diabetes tipe 1 masih cukup tinggi yakni hampir 90% anak, namun dengan gaya hidup dominan makanan manis dan malas bergerak diabetes tipe 2 juga akan menyamai posisi diabetes tipe 1.
Diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun dimana pankreas tidak bisa memproduksi insulin, dengan gejala fisik anak yang kurus sejak kecil. Sementara diabetes tipe 2 disebabkan karena pankreas yang mengalami gangguan dalam memproduksi insulin dan tubuh menjadi resisten insulin akibat gaya hidup tidak sehat.
Piprim juga menjelaskan gejala diabetes tipe 1 dan 2 sama yakni anak menjadi lapar terus meski sudah makan banyak, banyak minum, urine meningkat, dan berat badan menjadi susut. (Ant/Z-1)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Berdasarkan tinjauan besar (umbrella review) yang dirilis pada 2024, risiko tersebut meningkat sekitar 28 persen dibandingkan individu dengan golongan darah non-B. Meski demikian
Ahli nutrisi menyarankan makan sayuran non-tepung lebih dulu sebelum protein dan karbohidrat untuk mengatur gula darah, memperlambat pencernaan karbohidrat.
DI 2026, anggapan bahwa diabetes melitus adalah penyakit orang tua telah resmi terpatahkan.
golongan darah juga dapat memengaruhi risiko seseorang terkena diabetes tipe 2.
Riset terbaru Johns Hopkins mengungkap peran testosterone dan estradiol terhadap risiko penyakit jantung pada pasien diabetes tipe 2.
Golongan darah selama ini dikenal hanya menentukan kecocokan transfusi. Namun riset terbaru mengungkap fakta ternyata berkaitan langsung dengan risiko penyakit kronis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved