Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BELAKANGAN banyak masyarakat yang perhatian terhadap masalah kesehatan mental, terutama di tengah generasi muda.
Generasi Z atau Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 – 2012, kerap menjadi sorotan karena mereka lebih rentan terhadap masalah mental ketimbang generasi sebelumnya.
Apakah benar? Mari kita ulas mengenai masalah kesehatan jiwa atau mental di tengah generasi Z!
Baca juga : Masalah Kesehatan Mental Anak Muda Kerap Dipicu Ekspektasi Eksternal
Melansir dari BTPN, banyak penelitian dan survei menunjukkan bahwa Gen Z mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Survei tahun 2022 oleh Harmony Healthcare IT menunjukkan bahwa 42% dari generasi Z telah didiagnosa mengalami masalah kesehatan mental.
Laporan lain dari American Psychological Association (APA) juga memaparkan bahwa hampir 90% dari Gen Z di Amerika Serikat setidaknya mengalami satu gejala stres, seperti merasa kewalahan atau cemas berlebihan.
Baca juga : Kasus Gangguan Kecemasan Meningkat dan Lebih Menular dari Covid-19
Lalu, apa yang menjadi penyebabnya?
Penyebab masalah gangguan jiwa atau mental pada Gen Z
Dikutip dari BTPN, meskipun teknologi memberikan banyak manfaat seperti akses informasi dan komunikasi yang mudah, penggunaannya yang berlebihan dapat berdampak negatif.
Baca juga : Bunuh Diri Dianggap Sebagai Jalan Keluar dari Masalah Hidup yang Kompleks
Media sosial, khususnya, sering dikaitkan dengan perasaan rendah diri, kecemasan sosial, dan FOMO (Fear of Missing Out).
Gen Z tumbuh di era di mana media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, sehingga tekanan untuk terlihat sempurna dan membandingkan diri dengan orang lain menjadi sangat besar.
Gen Z juga menghadapi tekanan yang signifikan dalam hal karier dan akademis.
Baca juga : Baru 38% Puskesmas di Indonesia yang Punya Layanan Kesehatan Jiwa
Dengan persaingan yang semakin ketat, banyak dari mereka merasa harus mencapai prestasi yang tinggi di sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang baik untuk masa depan yang lebih stabil.
Tekanan ini sering kali menyebabkan stres yang berlebihan dan kecemasan akan masa depan.
Ditambah lagi dengan semakin tingginya biaya pendidikan, banyak dari mereka yang juga terbebani oleh masalah keuangan.
Generasi Z tumbuh di lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian politik dan ekonomi.
Ketidakpastian ini dapat menyebabkan perasaan cemas dan stres secara terus-menerus.
Gen Z juga sering kali merasa bahwa masa depan mereka tidak seaman atau sebaik yang mereka harapkan.
Perubahan sosial dan kultural yang cepat juga berkontribusi pada masalah kesehatan mental Gen Z.
Norma-norma sosial yang berubah, inklusi yang lebih besar dari berbagai identitas gender dan seksual, serta meningkatnya kesadaran akan isu-isu sosial seperti kesetaraan ras dan keadilan sosial, semuanya dapat menambah kompleksitas dalam kehidupan mereka.
Meskipun perubahan ini seringkali positif, proses adaptasinya dapat menyebabkan stres dan kebingungan.
Meskipun ada peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, tak sedikit Gen Z merasa bahwa mereka tidak memperoleh dukungan yang layak.
Stigma sosial yang terkait dengan masalah kesehatan mental masih ada, dan akses ke layanan kesehatan mental yang terjangkau dan berkualitas pun belum merata.
Banyak dari mereka merasa tidak tahu ke mana harus mencari bantuan atau merasa takut untuk membicarakan masalah mereka secara terbuka.
Akibatnya, hal ini dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupan, mulai dari prestasi akademis, produktivitas kerja, hingga hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. (Z-10)
Survei tersebut menempatkan Anwar Hafid sebagai satu-satunya wakil Sulawesi yang masuk jajaran 10 besar gubernur berkinerja terbaik secara nasional.
Di kota tropis seperti Jakarta, konsep 'summer' tidak sekadar musim, melainkan state of mind, tentang kebebasan, spontanitas, dan koneksi.
Kalangan Gen Z kini lebih mengedepankan personalisasi dan pengalaman dalam merancang hari istimewa mereka.
Generasi Z dan Milenial di Jakarta mulai meninggalkan konsep kepemilikan rumah sebagai simbol sukses. Simak analisis pakar properti terkait tren ini.
Bed rotting memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks, terutama terkait tekanan sosial dan proses pencarian jati diri.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dorong peningkatan literasi nasional manfaatkan tingginya minat baca Gen Z berdasarkan riset Jakpat 2025.
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved