Zillennial Jakarta Pilih Sewa Rumah, Ini Penyebab dan Kriteria Hunian Ideal

Basuki Eka Purnama
25/4/2026 21:38
Zillennial Jakarta Pilih Sewa Rumah, Ini Penyebab dan Kriteria Hunian Ideal
Ilustrasi--Pengendara roda dua melintas di deretan rumah subsidi di Walantaka, Kota Serang, Banten, Selasa (14/4/2026).(ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas)

FENOMENA pergeseran paradigma terhadap kepemilikan hunian tengah melanda generasi muda di Jakarta. Kelompok yang kini populer disebut sebagai "Zillennial", gabungan Generasi Z dan Milenial, mulai memandang kepemilikan rumah bukan lagi sebagai indikator kesuksesan atau instrumen investasi utama.

CEO PT Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, mengungkapkan bahwa bagi generasi ini, menyewa hunian menjadi pilihan yang lebih rasional untuk tetap tinggal di pusat kota. Hal ini disampaikan dalam ajang Asia Connect: Indonesia CEO & Leaders Forum 2026 di The Westin Jakarta, Kamis (23/4/2026).

"Membeli rumah itu tidak lagi dianggap sebagai investasi. Memiliki rumah juga tidak lagi dianggap sebagai indikator sukses. Kalau mau tinggal di Jakarta ya sewa, itu pilihan mereka sekarang," ujar Hendra.

Tantangan Keterjangkauan dan Stok Properti

Data menunjukkan terdapat potensi pasar yang besar namun tidak terserap secara optimal. Dari sekitar 32 juta penduduk Jabodetabek, separuhnya merupakan kelompok usia produktif. Namun, kenaikan harga properti yang melampaui pertumbuhan pendapatan membuat mereka terjepit dalam dilema antara kualitas hidup dan kepemilikan aset.

Selain faktor finansial, ketidaksesuaian produk (mismatch) menjadi kendala serius. Leads Property mencatat ribuan unit apartemen di Jakarta justru tidak dilirik oleh generasi muda karena kualitas dan spesifikasi yang tidak memenuhi ekspektasi.

Data Stok Properti Tidak Terjual di Jakarta (2026)

Kategori Proyek Jumlah Unit
Proyek Eksisting (Tersedia) 30.000 unit
Proyek Tertahan (On-hold) 11.300 unit
Total Unit Belum Terjual 41.300 unit

*Catatan: 90% dari total unit tersebut dinilai tidak memenuhi kriteria ideal Zillennial.

Budaya "Subscription" dan Prioritas Akses

M. Adhiguna Sosiawan, CMO sekaligus Direktur Arsitektur Masgroup, menilai perilaku Zillennial sangat dipengaruhi oleh gaya hidup digital. Kebiasaan menggunakan layanan berbasis langganan (subscription) seperti Spotify dan Netflix terbawa ke dalam cara mereka memandang hunian.

"Kebiasaan menyewa itu sudah menjadi bagian dari cara hidup mereka. Mereka lebih memprioritaskan akses daripada kepemilikan aset," kata Adhiguna. Meski demikian, ia menekankan bahwa minat membeli tetap ada jika pengembang mampu menawarkan hunian yang mengedepankan fungsi dan pemanfaatan ruang yang optimal (compact living).

4 Kriteria Hunian Ideal Versi Zillennial:

  1. Kualitas Bangunan: Penyelesaian (finishing) yang layak dan estetis.
  2. Pengelolaan Gedung: Manajemen properti yang profesional dan terawat.
  3. Aksesibilitas: Kedekatan dengan transportasi umum (TOD).
  4. Harga Realistis: Sesuai dengan daya beli dan skema cicilan yang sehat.

Evaluasi bagi Pengembang

Hendra Hartono memperingatkan para pengembang untuk segera beradaptasi. Menurutnya, pasar saat ini bukan sekadar mengalami salah produk, melainkan salah produk untuk generasi yang salah (wrong product for wrong generations).

Ia menyarankan pengembang untuk melakukan penyesuaian harga, meningkatkan kualitas bangunan, dan menata ulang proyek-proyek yang tertahan agar relevan dengan preferensi pasar masa kini. "Kita tidak bisa lagi membangun produk tradisional yang sama seperti dulu," tegasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya