Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT Alzheimer dan demensia merupakan dua jenis penyakit degeneratif pada lansia yang membuat penderitanya mengalami gejala penurunan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, hingga perubahan perilaku. Gejala-gejala tersebut membuat kedua penyakit itu sulit untuk dibedakan, terutama bagi orang awam. Lantas, apa perbedaan Azheimer dan demensia?
Perlu diketahui bahwa demensia bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan istilah untuk kumpulan gejala yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi aktivitas sehari-hari penderitanya, seperti kemampuan dalam berkomunikasi, berpikir, bersosialisasi, dan daya ingat.
Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang paling umum. Alzheimer adalah gangguan yang memengaruhi fungsi kognitif, di mana penderitanya dapat mengalami masalah pada ingatan, perilaku, dan kemampuan dalam berpikir.
Baca juga : Membangun Kesadaran di Hari Alzheimer Sedunia: Memahami Penyakit dan Dampaknya
Perbedaan Alzheimer dan demensia selengkapnya dapat dilihat dari segi penyebab, gejala, dan pengobatannya. Berikut masing-masing penjelasannya.
Perbedaan demensia dan penyakit Alzheimer yang pertama bisa dilihat dari penyebabnya.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab penyakit Alzheimer. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini terjadi akibat adanya endapan atau penumpukan plak amiloid dan protein tau di dalam otak, sehingga suplai nutrisi menuju otak terhambat dan menyebabkan kebutuhan nutrisi pada otak tidak terpenuhi. Kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh kelainan genetik dan gaya hidup.
Baca juga : Di Bulan Alzheimer Sedunia, ADI dan Alzi Serukan Peningkatkan Kesadaran dan Pengurangan Stigma
Penyebab demensia bisa berbeda-beda, tergantung dari jenisnya. Salah satu penyebabnya adalah mengidap penyakit degeneratif seperti penyakit Alzheimer, Parkinson, dan Huntington. Berikut adalah jenis-jenis demensia dan penyebabnya :
Adapun kondisi lain yang juga dapat menyebabkan demensia, antara lain :
Jika dilihat sekilas, gejala penyakit Alzheimer dan demensia hampir sama, yakni gangguan ingatan, kesulitan berkomunikasi, perubahan perilaku, dan penurunan kemampuan berpikir. Hal ini terjadi karena penyakit Alzheimer merupakan salah satu jenis demensia.
Baca juga : Mengenal Penyakit Demensia, Ini yang Perlu Anda Ketahui
Beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penderita penyakit Alzheimer atau demensia Alzheimer adalah sebagai berikut :
Sementara itu, gejala-gejala pada jenis demensia lainnya yang membedakannya dengan penyakit Alzheimer adalah sebagai berikut.
1. Gejala demensia vaskular:
Baca juga : Deretan Artis dan Selebritas yang Terkena Penyakut Alzheimer
2. Gejala demensia Lewy body:
3. Gejala demensia frontotemporal:
Perbedaan Alzheimer dan demensia berikutnya adalah dari pengobatannya. Namun, perlu diketahui bahwa penyakit Alzheimer tidak dapat disembuhkan secara total, sehingga pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk meringankan gejala serta meningkatkan kualitas hidup penderitanya.
Sementara itu, pengobatan demensia tergantung dari penyebab dan jenisnya.
Penyakit Alzheimer adalah kondisi yang tidak dapat disembuhkan secara total, hanya saja gejalanya bisa diringankan melalui penggunaan obat-obatan penghambat kolinesterase seperti donepezil, rivastigmine, dan lain-lain.
Pengobatan ini dilakukan untuk mengatasi masalah tidur, perubahan perilaku, depresi, dan hilangnya memori pada penderita.
Menerapkan gaya hidup sehat, seperti menjaga asupan makanan dengan gizi seimbang, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup diketahui dapat meringankan gejala yang dialami penderita.
Pengobatan demensia berbeda-beda, tergantung dari jenisnya. Misalnya, pasien dengan demensia vaskular biasanya akan diberikan obat penurun tekanan darah dan kolesterol, serta obat-obatan untuk mencegah terjadinya pembekuan darah.
Sedangkan pada pasien dengan demensia Lewy body, dokter biasanya juga akan meresepkan obat penghambat kolinesterase.
Sementara itu, pada pasien dengan demensia frontotemporal, hanya dapat diberikan obat antipsikotik dan antidepresan sebab sampai saat ini tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan atau memperlambat perburukan penyakitnya.
Berikut merupakan informasi mengenai perbedaan Alzheimer dan demensia. Kedua penyakit yang sama-sama menyerang fungsi otak ini merupakan kondisi yang perlu mendapatkan penanganan sesegera mungkin dari dokter.
Maka dari itu, jika terdapat anggota keluarga atau kerabat yang mengalami gejala demensia atau penyakit Alzheimer, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai. (berbagai sumber/Z-1)
Peneliti temukan rasio neutrofil dalam darah berkaitan dengan risiko Alzheimer. Simak bagaimana tes darah biasa bisa jadi deteksi dini demensia sebelum gejala muncul.
Temukan bagaimana latihan beban atau resistance training dapat menurunkan risiko demensia dan Alzheimer berdasarkan temuan jurnal penelitian medis terbaru.
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko demensia seperti Alzheimer.
5 kebiasaan sehari-hari seperti kurang tidur hingga pola makan buruk diam-diam merusak otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut studi ilmiah terbaru.
Terminal lucidity adalah lonjakan kesadaran sesaat sebelum meninggal. Ini penjelasan ilmiah, tanda-tanda, dan fakta medisnya.
Terminal lucidity adalah fenomena kejernihan mendadak sebelum kematian pada pasien demensia. Simak penjelasan, ciri, dan fakta ilmiahnya.
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Bertambahnya suhu bumi membuat kuman maupun virus bisa bertumbuh dengan lebih subur sehigga cukup berbahaya pada anak yang belum terproteksi dengan imunisasi rutin.
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Andi Kurniawan Sp.KO ingatkan jemaah haji waspadai risiko diabetes, hipertensi, hingga jantung akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved