Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menilai Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio putaran kedua yang dimulai hari ini, Selasa (23/7) menjadi cerminan bahwa imunisasi anak Indonesia belum sukses. Pemerintah kembali menyelenggarakan PIN Polio tahap II pada bulan Juli ini guna mencegah anak-anak terkena polio.
Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat virus polio di sejumlah wilayah di Indonesia bisa dihentikan dengan bekerja sama para orangtua untuk memberikan imunisasi polio kepada anak. Hingga kini sebanyak 32 Provinsi dan 399 kabupaten/kota di Indonesia masuk dalam kategori risiko tinggi polio.
"Sebetulnya PIN ini adalah cerminan bahwa imunisasi kita belum sukses, kalau sukses sebenarnya 2014 kita sudah dinyatakan bebas polio," kata Piprim di Kantor IDAI, Jakarta Pusat, Selasa (23/7).
Baca juga : Sub PIN Polio dan Imunisasi Dasar Lengkap Anak Terus Digencarkan untuk Cegah Penularan
"Tapi dengan adanya berbagai kasus yang muncul kembali, maka dilakukan PIN.Tentu saja IDAI berharap bahwa akan imunisasi nasional serentak di seluruh Indonesia ini, nanti diikuti oleh imunisasi rutin yang juga dilengkapi. Karena kita sudah melihat bahwa imunisasi ini ketika cakupannya tinggi, penyakit-penyakit yang dapat dicegat dengan imunisasi itu bisa terkendali dengan baik," lanjutnya.
Ketika cakupannya menurun dibawah 60%, KLB sudah mulai bermunculan kembali dan ini menjadi berbahaya.
"Jadi saya kira kami menghimbau semua pihak, terutama orangtua, masyarakat, mari tingkatkan kesadaran untuk melindungi anak-anak. Mencegah dari penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, dan vaksinnya gratis di puskesmas, tinggal bagaimana masing-masing orangtua menggalakkan supaya imunisasi ini cakupannya tinggi kembali," ujar dia.
Baca juga : IDAI Sebut KLB Polio di Jawa Bakal Jadi Bom Waktu
Sementara itu, dr. Rini Sekartini dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Anak IDAI menekankan pertumbuhan anak akan optimal dengan lingkungan sehat, sekolah, dan lingkungan luar lainnya.
"Dari aspek kesehatan yang bisa dilakukan yakni PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) mulai biasa dari perilaku masih terkendala mulai dari cuci tangan. Para orangtua cuci tangan harus mulai ajarkan pada anak dengan contoh," ucap Rini.
PHBS juga harus diterapkan di lingkungan rumah sakit, kantin, dan sekolah harus bebas dari rokok. Sayangnya, kata dia, banyak dagangan di luar sekolah mau pun kantin masih menjual makanan tidak sehat.
"Semua mulai dari keluarga dari lingkungan terkecil, kemudian ke sekolah, dan melakukan PHBS. Jangan sampai terlena masalah kesehatan," pungkasnya. (P-5)
IDAI menekankan pentingnya imunisasi masif untuk mengatasi lonjakan kasus campak dan polio di Indonesia sebagai penyakit yang muncul kembali.
Kemenkes tetapkan vaksin meningitis dan polio sebagai syarat wajib haji 2026. Simak aturan waktu pemberian dan tips kesehatan dari ahli di sini.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Kualitas surveilans AFP semakin baik melalui deteksi kasus lebih sensitif dan peningkatan kualitas spesimen.
Indonesia telah resmi mengakhiri wabah virus polio tipe 2, yang muncul akibat rendahnya cakupan imunisasi polio selama bertahun-tahun.
Turunnya angka imunisasi selama pandemi menyebabkan kembali munculnya kasus polio di beberapa daerah Indonesia.
IMUNISASI disebut sebagai langkah paling efektif dalam mencegah dan menekan penyebaran campak, terutama pada anak usia balita.
Pembukaan simposium ilmiah yang menjadi bagian dari forum IVAXON 2026 di Jakarta.
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Dante juga menjelaskan anak yang telah diimunisasi akan mencegah terjadi penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
Sebanyak 281 ribu anak di Aceh masuk kategori zero dose atau belum pernah imunisasi. Simak penyebab, dampak, dan upaya Dinkes Aceh mengatasinya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved