Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IBADAH umrah di kala pandemi covid-19 menjadi suatu kesempatan yang sangat berharga karena penyelenggaraan umrah kali ini harus melalui izin, prosedur, dan regulasi yang bertumpuk baik dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Arab Saudi. Namun harapan menuju Tanah Suci itu pun tidak akan terhenti, kesempatan yang ada akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para jemaah.
Ruswati, 51, Salah satu jemaah umrah yang mengalami penundaan lebih dari 1 tahun. Harapan kosong dialaminya ketika 1 pekan sebelumnya keberangkatan pada 8 Maret 2020 dirinya bersama jamaah Menara Travel Depok lainnya gagal berangkat ke Mekah dan Madinah karena adanya kebijakan larangan keluar negeri oleh pemerintah. Ruswati bersama 5 anggota keluarganya yang terdiri dari 5 orang dewasa dan 1 anak berumur 9 tahun harus berlapang dada untuk menunda keberangkatan.
"Padahal tinggal berangkat aja. Sebelumnya tanggal 25 Februari 2020 yang sudah berangkat dan sudah di Jedah, Arab Saudi dipulangkan lagi dan 8 Maret 2020 saya ditunda sampai sekarang," kata Ruswati kepada Media Indonesia, Kamis (14/10).
Baca juga: Jokowi: Akhir Tahun 70% Lebih Masyarakat Sudah Divaksinasi
Meski saat ini sudah ada kabar untuk jemaah umrah kembali dibuka namun dirinya memiliki banyak pertimbangan yang harus didiskusikan kembali. Berangkat umrah di masa pandemi ini ternyata tidak sama dengan sebelumnya, pertimbangan ekstra terkait hal-hal yang menjadi persyaratan baru juga membutuhkan waktu tidak bisa secara singkat diputuskan.
Pada saat ini, pemerintah Arab Saudi sudah membuka kembali untuk jamaah umrah asal Indonesia namun syarat yang dikeluarkan yakni harus divaksin 3 kali dan menjalani karantina selama 14 hari di negara ketiga. Dengan syarat tersebut otomatis biaya per jamaah akan meningkat sekitar 30-50% jadi biaya umrah sebelumnya Rp20-25 juta kini bisa naik menjadi Rp35 juta lebih.
Ruswati mengaku dirinya ingin sekali mendaftar untuk gelombang pertama berangkat umrah di masa pandemi ini namun anaknya yang berumur 9 tahun belum bisa divaksin sehingga hal ini menjadi pertimbangan terlebih dirinya sudah membayar lunas keberangkatan kali ini. Selain itu biaya tambahan karena harus karantina di negara ketiga juga perlu pertimbangan yang matang.
"Pemerintah juga belum mengeluarkan kebijakan kan vaksin untuk anak di bawah 10 tahun jadi masih ragu-ragu juga. Kalau berangkat berenam berarti anak yang paling kecil tidak dibawa kasihan juga dan sudah bayar juga," jelasnya.
Meski ada kebijakan vaksin booster menurutnya tidak mempersulit ia yakin jika ingin berangkat ke Tanah Suci meski ada syarat booster maka bukan halangan. Namun saat ini kebijakan vaksin booster masih terbatas hanya untuk tenaga kesehatan "Kalau pun ada mau saja kita disuntik booster atau vaksin ke 3 dan untuk masyarakat lainnya belum disediakan," ucapnya.
Selain itu untuk kenaikan harga untuk biaya karantina dirinya berharap untuk tidak terlalu tinggi apalagi ia berangkat bersama 6 anggota keluarga sekaligus. Jika kenaikan biaya umrah masih dapat terjangkau maka tidak jadi masalah baginya. Namun jika naiknya terlalu tinggi dan belum ada kebijakan vaksin untuk anak dirinya harus ikhlas untuk menunggu pandemi ini berubah menjadi endemi.
Dengan adanya karantina di negara ke 3 sendiri diharapkan tidak mengurangi hari untuk melakukan ibadah umrah. Misalkan umrah dengan jangka waktu 9 hari jangan sampai dikurangi untuk kebutuhan karantina.
Ke depannya dirinya berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk pemberian vaksin bagi anak sehingga anaknya yang berumur 9 tahun dan anak lainnya memenuhi syarat untuk pergi umrah serta biaya ekstra untuk karantina sendiri tidak terlalu tinggi.
"Kalau dari kita pribadi jika ada biaya tambahan sebisa mungkin bisa di biayai jangan terlalu mahal. Mungkin dari agen atau travel sekian puluh juta mungkin ada bagi hasil dari bank, mungkin biaya ekstra bisa diambil dari situ sehingga biaya tambahan itu tidak dibebankan semua ke para jamaah," ungkap Ruswati.
Jika ada karantina yang memakan waktu lama para jamaah umrah sebetulnya tidak masalah namun jangan sampai memotong waktu untuk ibadah umrah serta jangan sampai memakan biaya tambahan yang terlampau besar juga. Penuh harapan untuk umrah di masa pandemi ini, namun yang pasti harapan tersebut tidak akan terhenti. (H-3)
Hingga 29 April 2026, sebanyak 122 kelompok terbang (kloter) atau 47.834 jemaah telah diberangkatkan menuju Tanah Suci.
Ia memastikan bahwa kondisi para korban terus dipantau secara intensif oleh petugas, dengan seluruh kebutuhan medis maupun logistik telah terpenuhi.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Di sisi lain, layanan kesehatan di Daerah Kerja Madinah juga terus dioptimalkan. Tercatat 1.373 jemaah menjalani rawat jalan.
Arab Saudi intensifkan diplomasi di Libanon melalui Perjanjian Taif untuk melucuti senjata Hizbullah di tengah goyahnya gencatan senjata Israel-Hizbullah.
Mediasi antara PT Khazanah Tamma Internasional dan jemaah umrah Syawal digelar pada Selasa (14/4) di bawah fasilitasi Kementerian Haji dan Umrah.
KANTOR Imigrasi Kelas I TPI Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, melaporkan adanya penundaan keberangkatan ibadah umrah oleh masyarakat Pulau Bangka.
Masa berlaku visa Umrah hanya sampai 30 Syawal jadi bertepatan kurang lebih dengan 17 April 2026.
Sebanyak 12 personel gabungan dari Polri dan TNI serta 4 unit kerja menerima penghargaan
Penghargaan diwujudkan melalui program pemberangkatan ibadah umrah ke Tanah Suci secara bertahap.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur dan regulasi yang berlaku bagi seluruh PPIU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved