Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Reka Wijaya kembali menghadirkan film emosional dengan pesan mendalam lewat Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis, sebuah karya yang membahas isu kesehatan mental.
Saat konferensi pers film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis, Kamis (10/10), Reka membuka cerita tentang tantangan membangun suasana emosional di setiap adegan dan proses kreatif yang melibatkan seluruh tim produksi.
Menurut Reka, salah satu tantangan terbesar adalah menciptakan emosi yang kuat dan autentik di setiap adegan, terutama ketika proses syuting harus dilakukan di berbagai lokasi di Jakarta.
Baca juga : Prilly Latuconsina Buka Suara Tentang Peran Mental Health di Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis
Ia menjelaskan, "Membangun emosi itu susah banget, karena syutingnya keliling Jakarta dan ada adegan yang harus disesuaikan dengan set. Emosi harus dipersiapkan dengan planting (penanaman emosi), jadi penonton tidak merasa kita sedang menjustifikasi karakter, melainkan memberikan ruang untuk memahami setiap tindakan."
Untuk mencapai kedalaman emosi yang diinginkan, tim produksi melakukan rehearsal intensif selama 10 hari sebelum syuting dimulai.
"Kami nggak berhenti mencoba sampai bisa mendapatkan titik nadir emosinya. Di lokasi pun, kami terus mengolah emosi para pemain hingga mencapai puncaknya," tegas Reka.
Baca juga : Proses Syuting Film Tulang Belulang Tulang Mengalami Beberapa Tantangan. Ini Penjelasan Sutradara
Dalam proses pengambilan adegan emosional, Reka bahkan terkadang menghindari penggunaan naskah dan lebih mendorong para pemain untuk mengeksplorasi imajinasi mereka.
"Saya harus membantu teman-teman pemain membayangkan sesuatu yang mungkin mereka belum pernah alami. Jadi, kita berusaha membuka imajinasi untuk merasakan apa yang dirasakan karakter," katanya.
Sebagai seorang sutradara, Reka juga mengakui bahwa ia merasa sangat terhubung secara emosional dengan cerita dalam Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis".
Baca juga : Dienan Silmy Ingin Kenalkan Cerita-Cerita Lokal ke Generasi Muda
Ketika ditanya apakah ia pernah terbawa suasana hingga menangis, Reka menjawab dengan jujur, "Saya nggak tahu kenapa, tapi bagi saya pribadi, sebuah film yang baik adalah film yang sangat dekat dengan pembuatnya."
Reka menjelaskan, meskipun ia belum pernah mengalami secara langsung setiap peristiwa dalam film, ia selalu mencoba untuk "masuk" ke dalam cerita dengan membayangkan bagaimana karakter-karakter dalam film menjalani kehidupan mereka.
Ia memberi contoh bagaimana ia berusaha memahami karakter Pras, yang diperankan oleh Surya Saputra, seorang pria dengan sifat keras yang harus dihadirkan dengan cara yang mendalam dan penuh empati.
Baca juga : Rigen Ungkap GJLS akan Buat Film yang Disutradarai Monty Tiwa
"Saya nggak mau menjustifikasi mengapa seseorang bisa berbuat seperti itu, tapi kita coba memberi ruang untuk memahaminya," ujarnya.
Film ini, bagi Reka, bukan hanya sekadar tontonan emosional, tapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan penting tentang dukungan dan pemahaman terhadap orang-orang yang mengalami masalah emosional.
Reka berharap bahwa Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis dapat menjadi "rumah" bagi siapa saja yang merasa terluka.
"Film ini ingin menyampaikan bahwa kita harus mendukung teman-teman kita yang punya masalah, khususnya masalah mental. Kita semua butuh ruang untuk mendengarkan dan didengarkan," ungkap Reka.
Dengan pesan yang kuat tentang kesehatan mental, Reka dan tim berharap film ini bisa membuka percakapan yang lebih luas di masyarakat.
Film ini bukan hanya berbicara tentang rasa sakit atau masalah emosional, tetapi juga bagaimana masyarakat bisa memberikan dukungan dan empati kepada mereka yang membutuhkannya.
Film ini diharapkan menjadi perantara bagi banyak orang untuk lebih peduli pada kesehatan mental mereka dan orang-orang di sekitar mereka.
Reka mengakhiri pernyataan dengan harapan bahwa film ini dapat menyentuh hati penonton dan membawa dampak positif bagi mereka yang menontonnya, terutama dalam hal pemahaman terhadap isu-isu mental health.
"Mari kita jadikan film ini sebagai rumah bagi teman-teman yang terluka hatinya," tutupnya dengan penuh harapan.
Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis menjadi salah satu karya yang patut ditunggu, tidak hanya karena kualitas sinematiknya, tetapi juga karena pesannya yang relevan dan penting bagi masyarakat Indonesia. (Z-1)
Para pemain film Gudang Merica berbagi pengalaman syuting yang menantang, mulai dari insiden nyaris jatuh di tebing hingga lokasi rumah sakit tua yang mencekam.
Rizky Inggar dan Bonar Manalu ungkap tantangan perankan suster galak hingga tokoh antagonis di film horor-komedi Gudang Merica yang tayang Mei 2026.
Ariel NOAH dan Raisa berkolaborasi dalam lagu Senang Dengar Suaramu Lagi untuk OST film Dilan ITB 1997. Simak makna lirik dan detail produksinya di sini.
Aktris Shaloom Razade berinisiatif menambah dialog bahasa Belanda demi karakter Isabella di film horor The Bell: Panggilan untuk Mati. Tayang 7 Mei 2026.
Kiesha Alvaro memerankan Yuda dalam film horor Tumbal Proyek. Simak tantangan fisik hingga pendalaman peran sebagai penganut Katolik di film ini.
Derby Romero sebut peran Bilal di film Ikatan Darah sebagai pengalaman terbaik sekaligus menantang. Simak detail karakter dan sinopsis filmnya di sini.
Sutradara Wregas Bhanuteja mengungkap film Para Perasuk bukan genre horor, melainkan drama obsesi manusia. Simak jadwal tayang dan daftar pemainnya.
Sutradara Joko Anwar ungkap alasan pilih warna kuning untuk baju tahanan di film Ghost in the Cell sebagai simbol harapan di tengah dunia yang kelam.
Joko Anwar ungkap makna mendalam poster Ghost in the Cell. Visual lubang jadi metafora sistem sosial busuk dan harapan di tengah kengerian.
Sutradara Joko Anwar menekankan pentingnya cerita otentik yang relevan dengan keresahan masyarakat sebagai fondasi utama kemajuan industri film Indonesia.
Berlatar di sebuah apartemen mewah di New York City, film They Will Kill You mengikuti kisah Asia (Zazie Beetz), seorang mantan narapidana yang mencoba menata ulang hidupnya.
Setelah sebelumnya sukses mengarahkan serial Pertaruhan, Sidharta Tata menyebut film Ikatan Darah sebagai ambisi lama yang akhirnya mendapatkan momentum untuk diwujudkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved