Siaran Langsung TikTok Shop Disorot, Pedagang Pasar Mengeluh Penurunan Omzet

Keisya Dwi Renita Putri, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila
06/4/2026 13:30
Siaran Langsung TikTok Shop Disorot, Pedagang Pasar Mengeluh Penurunan Omzet
Keisya Dwi Renita Putri, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila(Dok. Pribadi)

FENOMENA live shopping di platform TikTok kembali menjadi perbincangan hangat setelah sejumlah pedagang pasar tradisional mengeluhkan penurunan omzet yang signifikan. Siaran langsung yang menampilkan promosi produk dengan harga diskon besar dinilai menggeser pola belanja masyarakat secara drastis.

Dalam beberapa video yang viral di media sosial, terlihat bagaimana penjual di fitur TikTok Shop Live mampu menjual ratusan hingga ribuan produk hanya dalam hitungan jam. Strategi seperti flash sale, interaksi langsung dengan penonton, hingga penggunaan influencer
membuat penjualan meningkat pesat.

Namun di sisi lain, pedagang offline mengaku kesulitan bersaing. Mereka menilai harga yang ditawarkan dalam siaran langsung sering kali jauh lebih murah karena adanya subsidi, promosi platform, hingga kerja sama dengan produsen besar.

“Sekarang pembeli banyak yang lihat barang di sini, tapi belinya online karena lebih murah,” ujar salah satu pedagang dalam video yang beredar luas.

Fenomena ini memicu perhatian publik karena dinilai tidak hanya soal perubahan teknologi, tetapi juga menyangkut distribusi kekuatan ekonomi di sektor perdagangan. Platform seperti ByteDance sebagai pemilik TikTok dianggap memiliki kontrol besar dalam menentukan siapa yang mendapatkan keuntungan dalam ekosistem digital.

Melalui algoritma dan fitur promosi, platform dapat mendorong produk tertentu menjadi lebih terlihat dibandingkan yang lain. Hal ini membuat persaingan tidak lagi sepenuhnya terjadi antarpenjual, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem yang dimiliki platform. Selain itu, integrasi antara konten, hiburan, dan transaksi dalam satu aplikasi menjadikan batas antara media dan pasar semakin kabur. Pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga langsung membeli produk yang ditampilkan secara real-time.

Pemerintah sebelumnya sempat menyoroti praktik ini dan berupaya mengatur ulang mekanisme perdagangan digital, terutama terkait perlindungan UMKM dan keadilan pasar. Namun, perkembangan teknologi yang cepat membuat regulasi sering kali tertinggal.

Pengamat menilai bahwa fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam lanskap media dan ekonomi. Platform digital tidak lagi sekadar menjadi perantara, tetapi juga aktor utama yang mengatur arus informasi sekaligus transaksi.

Hingga kini, perdebatan masih berlangsung antara pihak yang melihat live shopping sebagai peluang ekonomi baru dan mereka yang menganggapnya sebagai ancaman bagi pelaku usaha tradisional. Yang jelas, tren ini menunjukkan bahwa kekuatan media digital kini tidak hanya memengaruhi apa yang dilihat publik, tetapi juga bagaimana mereka berbelanja. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya