Saat Perhatian Generasi Z Menjadi Komoditas di TikTok

Moza Maharsha Chandra, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila
21/4/2026 13:35
Saat Perhatian Generasi Z Menjadi Komoditas di TikTok
Moza Maharsha Chandra, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila.(Dok. Pribadi)

SETIAP hari, jutaan video pendek muncul di TikTok dan dikonsumsi dalam hitungan detik oleh Generasi Z. Platform ini tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi telah berkembang menjadi sistem ekonomi berbasis perhatian. Dalam perspektif ekonomi politik media, perubahan ini menunjukkan bahwa perhatian pengguna telah menjadi sumber daya utama yang dimanfaatkan platform untuk menghasilkan keuntungan.

Algoritma TikTok bekerja dengan mengumpulkan data perilaku pengguna, seperti durasi menonton, interaksi, komentar, dan pola konsumsi konten. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyusun rekomendasi yang dirancang agar pengguna bertahan lebih lama di dalam platform. Semakin lama waktu yang dihabiskan pengguna, semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat dihasilkan melalui iklan dan kerja sama komersial. Mekanisme ini menunjukkan adanya proses komodifikasi perhatian, yaitu ketika aktivitas pengguna diubah menjadi komoditas ekonomi.

Komodifikasi perhatian juga memengaruhi cara generasi muda memproduksi konten. Kreator terdorong untuk mengikuti logika algoritma yang mengutamakan engagement tinggi. Konten yang singkat, mengikuti tren, dan mudah viral cenderung lebih berpeluang memperoleh visibilitas dibandingkan konten yang memiliki kedalaman informasi. Akibatnya, orientasi produksi konten bergeser dari kualitas menuju potensi viralitas, karena perhatian telah menjadi nilai ekonomi utama di dalam platform.

Ketergantungan kreator terhadap algoritma juga menunjukkan adanya ketimpangan relasi kekuasaan antara platform dan kreator. Dalam kerangka ekonomi politik media, platform memiliki kontrol besar terhadap distribusi konten, sementara kreator hanya berperan sebagai produsen tanpa memiliki kendali penuh atas jangkauan maupun kepastian pendapatan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa struktur ekonomi platform turut membentuk praktik komunikasi digital.

Selain itu, algoritma cenderung memprioritaskan konten yang mampu mempertahankan perhatian pengguna, bukan konten yang memiliki nilai edukatif tinggi. Akibatnya, konten hiburan ringan lebih dominan dibandingkan konten informatif yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi informasi publik juga dipengaruhi oleh logika ekonomi platform.

Fenomena ini menegaskan bahwa platform digital bukan sekadar ruang komunikasi, melainkan juga struktur ekonomi yang mengendalikan distribusi perhatian. Dalam perspektif ekonomi politik media, perhatian pengguna telah menjadi komoditas utama yang menentukan pola produksi konten, relasi kekuasaan, dan kualitas informasi di era media berbasis algoritma.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya