Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Percepat Transisi Ekonomi Hijau di ASEAN

Despian Nurhidayat
25/4/2026 10:42
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Percepat Transisi Ekonomi Hijau di ASEAN
Enhancing the Sustainability of a Green Economy through the Utilization of Renewable Energy and Sustainable Finance by Strengthening MSMEs and Cooperatives in the ASEAN Region (Binus)

Penguatan ekonomi hijau di kawasan ASEAN membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan lembaga internasional. Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi utama untuk mempercepat adopsi energi terbarukan, pembiayaan berkelanjutan, serta transformasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Komitmen itu mengemuka dalam seminar bertema Enhancing the Sustainability of a Green Economy through the Utilization of Renewable Energy and Sustainable Finance by Strengthening MSMEs and Cooperatives in the ASEAN Region yang digelar di Binus University, Bekasi. Seminar ini diselenggarakan oleh Green Innovation Cooperation Center (GICC) bekerja sama dengan ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, Innobiz Association, serta didukung oleh Kementerian Koperasi dan Kementerian UMKM Republik Indonesia.

GICC sendiri merupakan inisiatif di bawah ASEM SMEs Eco-Innovation Center (ASEIC), organisasi yang berbasis di Korea Selatan dan berfokus pada pengembangan inovasi ramah lingkungan serta penguatan kapasitas UMKM di negara-negara mitra ASEM.

Seminar ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk membahas langkah konkret menuju transisi ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Kim Heesoon, Lee Young Jick, George Wijaya Hadipoespito, serta Bastian.

Dalam sambutannya, Kim Heesoon menegaskan bahwa keberhasilan transisi hijau sangat bergantung pada sinergi antar pemangku kepentingan, dengan UMKM dan koperasi sebagai tulang punggung perekonomian ASEAN.

“Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting, dengan UMKM dan koperasi sebagai pilar utama ekonomi ASEAN,” ujarnya.

Berbagai isu strategis dibahas dalam seminar ini, mulai dari pemanfaatan teknologi energi terbarukan bagi UMKM, penguatan skema pembiayaan berkelanjutan, hingga integrasi inovasi digital dalam mendukung transformasi bisnis menuju ekonomi hijau.

Analis Dekarbonisasi Bisnis di University of Oxford, Andi Darell Alhakim, menyoroti bahwa tantangan terbesar UMKM dalam memulai transisi hijau sering kali bukan pada ketersediaan solusi, melainkan menentukan langkah awal yang tepat.

“Bagi banyak UMKM, tantangan terbesar bukanlah kurangnya solusi, tetapi mengetahui dari mana harus memulai. Pada kenyataannya, langkah-langkah kecil dan praktis sudah dapat memberikan dampak yang berarti,” jelasnya.

Sementara itu, Lee Young Jick menekankan pentingnya integrasi antara teknologi, pembiayaan, dan kebijakan untuk mempercepat transformasi hijau di ASEAN.

“Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan akan menjadi kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di kawasan ASEAN,” katanya.

Selain menjadi forum berbagi pengetahuan, seminar ini juga membuka peluang kolaborasi baru antara sektor publik dan swasta. Berbagai sesi diskusi membahas strategi kerja sama berkelanjutan, peran perguruan tinggi dalam inovasi UMKM, dukungan kebijakan pemerintah, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga strategi dekarbonisasi bagi pelaku usaha.

Melalui forum ini, Green Innovation Cooperation Center menegaskan komitmennya untuk terus mendorong inovasi, memperkuat kemitraan internasional, serta mendukung pembangunan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya