Sejarah Tuan Rumah Bersama Piala Dunia: Dari Korea-Jepang hingga Ambisi ASEAN

Basuki Eka Purnama
19/4/2026 11:48
Sejarah Tuan Rumah Bersama Piala Dunia: Dari Korea-Jepang hingga Ambisi ASEAN
Trofi Piala Dunia(AFP/Fabrice COFFRINI )

KONSEP tuan rumah bersama (joint host) dalam gelaran Piala Dunia FIFA kini menjadi tren baru dalam industri sepak bola modern. Seiring dengan bertambahnya jumlah peserta menjadi 48 tim, beban logistik dan infrastruktur yang semakin besar membuat kolaborasi antarnegara menjadi solusi paling rasional bagi FIFA.

Jejak Sejarah: Korea-Jepang 2002 sebagai Pionir

Sepanjang sejarahnya, Piala Dunia yang digelar di lebih dari satu negara baru terjadi satu kali, yakni pada edisi 2002. Saat itu, Korea Selatan dan Jepang terpilih menjadi penyelenggara bersama. Keputusan ini sempat menuai perdebatan karena masalah koordinasi dan jarak geografis, namun berakhir sukses dengan memunculkan kejutan dari tim-tim Asia.

Setelah edisi 2002, FIFA sempat memperketat aturan dan cenderung memilih satu negara tunggal untuk menjaga efisiensi. Namun, tuntutan ekspansi turnamen mengubah arah kebijakan tersebut.

Piala Dunia 2026: Rekor Tiga Negara Pertama

Piala Dunia 2026 akan mencatatkan sejarah baru sebagai edisi pertama yang digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini adalah lompatan besar dari format sebelumnya. Dengan total 104 pertandingan yang akan dimainkan, kolaborasi tiga raksasa Amerika Utara ini dianggap sebagai standar baru untuk turnamen skala besar.

Edisi Tuan Rumah Jumlah Negara
2002 Korea Selatan & Jepang 2 Negara
2026 AS, Kanada, Meksiko 3 Negara
2030* Spanyol, Portugal, Maroko (Utama) 3 Benua (6 Negara)

*Catatan: Edisi 2030 direncanakan melibatkan laga pembuka di Uruguay, Argentina, dan Paraguay untuk memperingati 100 tahun Piala Dunia.

Peluang ASEAN: Mungkinkah 11 Negara Menjadi Tuan Rumah?

Pertanyaan mengenai apakah Piala Dunia bisa digelar di lebih banyak negara, seperti blok ASEAN yang beranggotakan 11 negara (termasuk Timor Leste), secara teknis sangat mungkin namun penuh tantangan.

Analisis Peluang ASEAN:
  • Infrastruktur: FIFA mensyaratkan standar stadion kategori 4. Saat ini, hanya beberapa negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang memiliki stadion mendekati standar tersebut.
  • Kuota Otomatis: Ini adalah kendala terbesar. FIFA biasanya memberikan jatah lolos otomatis kepada tuan rumah. Jika ada 11 negara, hampir mustahil FIFA memberikan 11 slot otomatis dari total 48 peserta.
  • Logistik & Transportasi: Konektivitas antarnegara ASEAN harus sangat mulus untuk mobilitas pemain dan suporter dalam waktu singkat.

Meskipun wacana ASEAN Bid sudah sering muncul dalam KTT ASEAN, format yang paling realistis kemungkinan besar bukan melibatkan seluruh 11 negara, melainkan konsorsium 3 hingga 5 negara utama (misalnya Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Vietnam) untuk menjaga kualitas kompetisi dan diplomasi kuota peserta.

Dengan tren yang ada, masa depan Piala Dunia dipastikan akan semakin inklusif dan melintasi batas-batas negara, membuka jalan bagi kawasan seperti Asia Tenggara untuk bermimpi menjadi panggung sepak bola dunia di masa depan.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya