Aturan Baru FIFA: Tutup Mulut Saat Konfrontasi Bisa Kena Kartu Merah

Basuki Eka Purnama
29/4/2026 09:56
Aturan Baru FIFA: Tutup Mulut Saat Konfrontasi Bisa Kena Kartu Merah
Aksi pemain Benfica Gianluca Prestianni yang menutup mulutnya saat terlibat konfrontasi dengan pemain Real Madrid Vinicius Junior.(AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

DUNIA sepak bola akan segera menyaksikan perubahan regulasi yang drastis di Piala Dunia 2026. Dalam pertemuan khusus International Football Association Board (IFAB) di Vancouver, Kanada, Selasa (28/4) waktu setempat, dua amandemen hukum yang diusulkan FIFA resmi disetujui. Salah satu poin paling mencolok adalah ancaman kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan dalam situasi konfrontasi.

Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas meningkatnya insiden pelecehan verbal yang sulit dibuktikan karena pemain sengaja menyembunyikan gerakan bibir mereka. Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa aturan ini bertujuan memberikan efek jera terhadap tindakan diskriminasi di lapangan hijau.

Efek Jera Terhadap Rasisme dan Pelecehan

Isu pemain yang menutup mulut menjadi sorotan tajam pada Februari lalu dalam laga Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid. Saat itu, winger Benfica, Gianluca Prestianni, terlihat mengangkat jerseynya untuk menutupi mulut saat berbicara dengan Vinicius Junior.

Meski sempat dibantah, investigasi UEFA akhirnya menyatakan Prestianni bersalah atas perilaku homofobik dan menjatuhkan sanksi larangan bertanding sebanyak enam laga. Insiden inilah yang memicu IFAB untuk mempercepat pembahasan regulasi baru.

Pernyataan Gianni Infantino: "Jika seorang pemain menutupi mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berujung pada konsekuensi rasis, maka dia harus diusir keluar lapangan. Harus ada praduga bahwa dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan, jika tidak, dia tidak perlu menutupi mulutnya."

Sanksi Tegas untuk Aksi Mogok Tanding

Selain aturan tutup mulut, IFAB juga mengesahkan aturan kartu merah bagi pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Aturan ini berkaca pada kejadian kelam di final Piala Afrika antara Maroko dan Senegal.

Kala itu, skuad Senegal sempat melakukan aksi mogok dengan masuk ke ruang ganti karena tidak terima dengan keputusan penalti wasit. Meski pertandingan sempat dilanjutkan, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) akhirnya mencabut gelar juara Senegal dan memberikan kemenangan WO 3-0 kepada Maroko sebagai hukuman atas aksi tersebut.

Pelanggaran Baru Sanksi Maksimal Konteks Penerapan
Menutup mulut saat konfrontasi Kartu Merah Diskresi Wasit
Meninggalkan lapangan (Protes) Kartu Merah & Kalah WO Pemain & Ofisial Tim

Implementasi di Piala Dunia

FIFA telah mengonfirmasi bahwa kedua aturan baru ini akan diadopsi sebagai competition opt-ins pada Piala Dunia 2026 ini. Keputusan akhir untuk mengeluarkan kartu merah tetap berada di bawah diskresi absolut wasit, yang akan mempertimbangkan seluruh situasi di lapangan sebelum mengambil tindakan.

Aturan ini juga berlaku bagi ofisial tim yang menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan. Tim yang menyebabkan pertandingan dihentikan atau ditinggalkan secara prinsip akan dinyatakan kalah dalam pertandingan tersebut (forfeit).

Dengan regulasi ini, FIFA berharap integritas dan sportivitas dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut dapat terjaga sepenuhnya dari tindakan-tindakan provokatif maupun diskriminatif. (bbc/Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya