Bahlil Jelaskan Dampak Kerja Sama Energi RI-AS Usai Rencana Impor Minyak dari Rusia

Media Indonesia
16/4/2026 22:53
Bahlil Jelaskan Dampak Kerja Sama Energi RI-AS Usai Rencana Impor Minyak dari Rusia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia(Antara)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) di sektor energi tetap berjalan normal dan tidak terdampak. Hal itu meskipun Indonesia tengah menjajaki rencana pembelian minyak mentah (crude) serta LPG dari Rusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di pelataran Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (16/4) sore. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan minyak mentah nasional Indonesia mencapai sekitar 300 juta barel per tahun, sehingga pasokan harus dipenuhi dari berbagai negara, termasuk AS dan Rusia, demi menjaga ketahanan energi nasional.

Ia juga menekankan bahwa keputusan impor didasarkan pada pertimbangan keuntungan bagi negara.

"Pertanyaan kemudian, apakah dengan kita membeli crude dari Rusia. Kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain, termasuk dengan Amerika? Saya katakan bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi, semuanya kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan," kata Bahlil.

Selain itu, Bahlil menyampaikan bahwa dirinya telah melaporkan hasil pertemuan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin di bidang energi serta Menteri Energi Rusia kepada Presiden Prabowo. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Putin di Moskow pada Senin (13/4).

Menurut Bahlil, hasil pembahasan dengan pihak Rusia berjalan positif dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas di sektor energi.

"Kita akan mendapat pasokan crude (minyak mentah) dari Rusia, dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita," katanya.

Lebih lanjut, Bahlil juga mengungkapkan bahwa Indonesia membuka peluang kerja sama impor LPG dari Rusia. Namun, ia menegaskan bahwa pembahasan terkait LPG masih memerlukan beberapa tahap pertemuan lanjutan.

"Insya Allah kita juga akan mendapat support (dukungan), tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua-tiga tahap, tetapi kalau <i>crude</i>-nya saya pikir sudah, sudah hampir final," ujarnya. (Ant/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya