Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah upaya Indonesia mengamankan pasokan energi dari Rusia, muncul pertanyaan krusial. Mengapa Moskow tidak serta-merta memberikan diskon harga minyak, padahal selama ini dikenal menawarkan harga lebih murah ke sejumlah negara?
Sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan bahwa dinamika ini tidak sesederhana negosiasi harga semata, melainkan terkait kepentingan geopolitik, mekanisme bisnis, hingga strategi pasar energi global.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah menjajaki kerja sama energi dengan Rusia, termasuk pembelian minyak mentah dan LPG. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa prioritas utama adalah menjaga ketahanan energi nasional, bukan sekadar mengejar harga murah.
“Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa negosiasi lebih diarahkan pada jaminan suplai jangka panjang, bukan diskon agresif yang bisa bersifat sementara.
Dari sisi Rusia, pendekatan yang digunakan cenderung berbasis skema bisnis (B2B/G2G), bukan pemberian diskon langsung. Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, menekankan kesiapan kerja sama, tetapi tanpa menyinggung potongan harga khusus.
“Kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas,” kata Tsivilev.
Artinya, Rusia lebih memilih menjaga struktur harga global daripada memberi diskon bilateral yang bisa merusak pasar.
1. Menjaga Stabilitas Harga Global
Diskon besar dapat menekan harga minyak dunia dan merugikan Rusia sendiri sebagai eksportir utama. Secara ekonomi, pemotongan harga terlalu dalam justru menggerus pendapatan negara.
2. Efek Sanksi Barat
Sejak konflik geopolitik, Rusia memang menjual minyak lebih murah ke beberapa negara. Namun, diskon tersebut bukan kebijakan permanen, melainkan strategi adaptif terhadap sanksi, dan tidak otomatis berlaku ke semua mitra.
3. Biaya Logistik dan Spesifikasi
Meski harga dasar minyak Rusia bisa lebih rendah, biaya distribusi dan penyesuaian kilang membuat harga akhir tidak selalu “diskon besar”. Bahkan, harga yang diterima Indonesia tetap dihitung secara komersial.
4. Negosiasi Masih Tahap Awal
Pertamina melalui Vice President Corporate Communication, Muhammad Baron, menegaskan bahwa proses masih dalam tahap penjajakan.
“Penjajakan masih di level pemerintah,” kata Baron.
Artinya, pembicaraan belum sampai tahap finalisasi harga.
Meski tidak ada diskon resmi, minyak Rusia tetap dinilai kompetitif. Dalam beberapa simulasi, harga bisa lebih rendah dibanding pasar global karena faktor geopolitik dan jalur distribusi alternatif.
Namun, ini berbeda dengan diskon khusus untuk Indonesia, yang hingga kini belum menjadi bagian dari kesepakatan. (E-4)
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) di sektor energi tetap berjalan normal dan tidak terdampak.
PAKAR energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai Indonesia memiliki peluang untuk mendapatkan pasokan minyak dari Rusia dengan harga sekitar US$59 per barel.
PEMERINTAH Rusia mengungkapkan bahwa Indonesia meminta pasokan bahan bakar minyak (BBM) melalui skema kontrak jangka panjang.
Prabowo menyatakan akan mengawasi langsung percepatan kerja sama RI-Rusia, terutama sektor moneter, saat bertemu Putin di Kremlin, Moskow.
Apindo mengapresiasi kerja sama pemerintah Indonesia dengan Rusia di sektor pangan. Upaya itu diharapkan mampu mendorong dan mendukung swasembada dan hilirisiasi sektor pangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved