Bank Dunia Revisi Proyeksi Ekonomi Indonesia, Begini Respons DPR

Naufal Zuhdi
11/4/2026 09:06
Bank Dunia Revisi Proyeksi Ekonomi Indonesia, Begini Respons DPR
Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan(DPR RI)

Revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 oleh Bank Dunia menjadi 4,7% mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal, khususnya akibat kenaikan harga energi global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Penyesuaian ini menunjukkan adanya risiko perlambatan ekonomi yang dipicu oleh faktor global, termasuk volatilitas harga komoditas dan perubahan sentimen investor.

Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, menilai bahwa proyeksi tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka analisis yang lebih komprehensif. Menurutnya, pendekatan yang digunakan lembaga internasional cenderung berbasis pada asumsi global agregat, sehingga berpotensi kurang merefleksikan karakteristik struktural perekonomian Indonesia yang berbasis konsumsi domestik.

Eric menegaskan bahwa sejumlah indikator makroekonomi domestik justru menunjukkan resiliensi yang cukup kuat. 

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang diperkirakan dapat melampaui 5,6% mengindikasikan bahwa permintaan domestik, stabilitas sektor keuangan, serta keberlanjutan belanja pemerintah masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Eric dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (11/4).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa transmisi tekanan global terhadap perekonomian Indonesia relatif lebih terbatas dibandingkan negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor eksternal. Hal ini disebabkan oleh kontribusi konsumsi rumah tangga yang dominan dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga mampu meredam dampak kontraksi dari sisi eksternal.

Namun demikian, Eric mengingatkan bahwa revisi proyeksi dari lembaga internasional memiliki implikasi terhadap ekspektasi pasar dan persepsi risiko investor. Oleh karena itu, diperlukan penguatan komunikasi kebijakan berbasis data (data-driven policy communication) guna menjaga kredibilitas dan stabilitas makroekonomi.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap narasi ekonomi didukung oleh fundamental yang kuat dan indikator yang terukur. Dengan demikian, stabilitas ekspektasi pasar dapat terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan,” tegas Eric. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya