Belanja Negara Dorong Optimisme Ekonomi

M Ilham Ramadhan Avisena
07/4/2026 11:18
Belanja Negara Dorong Optimisme Ekonomi
ilustrasi(Antara)

Lonjakan belanja negara pada awal 2026 dinilai mulai memberi dorongan nyata bagi pergerakan ekonomi domestik. Di tengah peningkatan pengeluaran pemerintah, indikator penerimaan negara juga menunjukkan tren positif, memunculkan optimisme terhadap arah pertumbuhan ekonomi ke depan.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko melihat kombinasi tersebut sebagai sinyal awal pemulihan yang mulai menguat.

"Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan," ujar dia melalui keterangannya, Selasa (7/4). 

Data pemerintah menunjukkan penerimaan negara pada triwulan I 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% secara tahunan. Peningkatan itu terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang melonjak 20,7% menjadi Rp394,8 triliun.

"Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat," kata Christiantoko.

Di sisi lain, belanja negara juga meningkat tajam. Hingga akhir Maret, realisasi belanja mencapai Rp815,0 triliun atau naik 31,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski defisit meningkat, Christiantoko menilai angkanya masih dalam batas terkendali dan justru mencerminkan strategi fiskal yang disengaja.

"Jika dicermati secara utuh, angka tersebut justru mencerminkan strategi fiskal yang terukur," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah secara sadar mendorong belanja di awal tahun untuk menjaga momentum pertumbuhan. Realisasi belanja yang sudah mencapai 21,2% dari target tahunan juga menunjukkan akselerasi dibanding pola tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata berada di kisaran 17%.

"Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik," terang Christiantoko.

Peningkatan belanja tersebut antara lain dipicu oleh program strategis serta faktor musiman seperti Lebaran, termasuk stimulus Rp15 triliun yang digelontorkan pemerintah untuk mendorong konsumsi masyarakat.

"Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi," ucap Christiantoko.

Meski agresif di sisi belanja, pemerintah dinilai tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit di bawah ambang batas 3% terhadap PDB.

"Dengan demikian, defisit sebesar 0,93% pada triwulan I 2026 harus dilihat bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan," pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya