APBN Triwulan I 2026 Jadi Peredam Gejolak, Belanja Dipacu Lebih Merata

Ihfa Firdausya
06/4/2026 16:49
APBN Triwulan I 2026 Jadi Peredam Gejolak, Belanja Dipacu Lebih Merata
Menkeu Purbaya (kedua kanan)(MI/Ihfa Firdausa)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) triwulan I 2026 tetap solid di tengah gejolak global, sekaligus berfungsi sebagai peredam (shock absorber) bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, APBN tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga aktif mendorong pertumbuhan melalui percepatan belanja negara yang dirancang lebih merata sepanjang tahun.

“Di tengah gejolak global, APBN mampu berfungsi sebagai shock absorber sekaligus mendukung agenda pembangunan dengan risiko yang tetap terkendali,” ujarnya saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).

Dari sisi penerimaan, kinerja pajak menunjukkan pertumbuhan kuat sebesar 20,7% secara tahunan (year on year). Secara keseluruhan, pendapatan negara hingga triwulan I 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau meningkat 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, belanja negara tumbuh lebih agresif, yakni 31,4% secara tahunan menjadi Rp815,0 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan belanja pada periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 1,4%.

Purbaya menjelaskan, percepatan belanja tersebut merupakan strategi pemerintah agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.

“Kita memang ingin belanja dilakukan lebih merata, sehingga efeknya terhadap ekonomi bisa lebih signifikan sejak awal tahun,” katanya.

Dengan realisasi tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB). Ia menegaskan, defisit tersebut merupakan hal yang wajar karena APBN memang dirancang dalam kerangka ekspansif.

“Kalau defisit lebih besar di awal tahun, itu normal karena kita percepat belanja. Yang penting kita terus monitor keseimbangan pendapatan dan belanja sepanjang tahun,” jelasnya.

Dari sisi penyerapan, belanja negara pada triwulan I 2026 telah mencapai 21,2% dari total pagu APBN, lebih tinggi dari rata-rata historis sekitar 17% pada periode yang sama. Menurut Purbaya, percepatan ini menunjukkan kementerian dan lembaga mulai lebih cepat dalam mengeksekusi anggaran yang telah disiapkan. (Fal/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya