Rupiah masih Terus Lemah karena Konflik Timur Tengah

Andhika Prasetyo
06/4/2026 10:56
Rupiah masih Terus Lemah karena Konflik Timur Tengah
ilustrasi(Antara)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin pagi, 6 April 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik Timur Tengah serta penguatan dolar AS. Rupiah hari ini tercatat turun 16 poin atau 0,09% ke level Rp16.996 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Rupiah cenderung melemah di tengah kekhawatiran eskalasi konflik serta kenaikan harga minyak mentah,” ujarnya.

Ketegangan tersebut meningkat setelah Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur strategis di Iran, serta memberikan ultimatum terkait pembukaan Selat Hormuz.

Situasi ini turut mendorong kenaikan harga minyak mentah global. Harga West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh level 115 dolar AS per barel sebelum terkoreksi ke kisaran 112 dolar AS per barel.

Di sisi lain, penguatan dolar AS juga didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih baik dari ekspektasi. Data Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan 178 ribu lapangan kerja pada Maret 2026, jauh melampaui perkiraan pasar.

Selain itu, tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari sebelumnya 4,4%, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid.

Kombinasi faktor geopolitik dan data ekonomi tersebut memperkuat indeks dolar AS, sehingga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS dalam jangka pendek. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya