Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Riza A. Pujarama menilai, melambatnya pertumbuhan tabungan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta mencerminkan adanya tekanan pada sisi pendapatan, khususnya yang dirasakan kelas menengah. Daya beli masyarakat kelompok ini dinilai masih belum pulih sepenuhnya.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), simpanan dengan saldo di bawah Rp100 juta pada Desember 2025 hanya tumbuh 3,43% secara tahunan (year on year/yoy), melambat dibandingkan November 2025 yang masih mencatatkan pertumbuhan 3,64%.
"Perlambatan tersebut sejalan dengan menurunnya pendapatan riil kelas menengah. Sehingga, yang terjadi adalah turunnya pertumbuhan simpanan di bawah Rp100 juta," kata Riza kepada Media Indonesia, Jumat (23/1).
Menurutnya, penurunan pertumbuhan simpanan bisa menjadi indikasi awal adanya pergeseran daya beli, terutama jika dikaitkan dengan faktor-faktor ekonomi lain yang memengaruhi kondisi riil rumah tangga, utamanya kelas menengah di Indonesia
"Karena yang perlu diperhatikan itu sekarang adalah porsi kelas menengah yang terus turun. Mereka hampir tidak mendapat sokongan bantuan dari pemerintah," jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024, atau menyusut 9,48 juta jiwa.
Riza menambahkan, faktor musiman juga turut memengaruhi perlambatan tabungan di bawah Rp100 juta pada Desember 2025. Libur sekolah yang cukup panjang serta kebutuhan belanja akhir tahun dan liburan mendorong kelas menengah menggunakan pendapatannya untuk konsumsi.
"Kemungkinan besar kelas menengah menggunakan pendapatannya untuk hal tersebut, sehingga mengurangi porsi tabungan," terangnya.
Senada, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Mervin Goklas Hamonangan berpandangan, terdapat indikasi masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya pendapatan riil yang tersisa, baik akibat melemahnya daya beli maupun meningkatnya beban cicilan.
"Ini seiring (maraknya) budaya pinjaman yang muncul karena keterbatasan finansial," katanya.
Faktor lainnya ialah lapangan pekerjaan yang masih relatif sulit diperoleh, sementara masyarakat masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian perekonomian. Sehingga, tidak menambah tabungan masyarakat kelas menengah.
Ia menekankan perkembangan ini perlu dipantau secara serius. Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan waspada agar tekanan ekonomi tersebut tidak berkembang menjadi keresahan di masyarakat.
Sebelumnya, Pejabat Pengganti Sementara (Pgs) Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan dan Resolusi Bank, Ferdinan D. Purba menyampaikan, simpanan dengan saldo di bawah Rp100 juta pada Desember 2025 hanya tumbuh 3,43% yoy.
"Kalau dilihat dari pertumbuhan total memang lebih rendah," ucapnya.
Di sisi lain, ketimpangan pertumbuhan simpanan masih terlihat jelas. Simpanan dengan saldo di atas Rp5 miliar justru tumbuh tinggi. Ferdinan menilai lonjakan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah, yang porsinya cukup signifikan.
"Saldo tabungan diatas Rp5 miliar ini tumbuh cukup tinggi yakni 22,76% secara tahunan (yoy)," tuturnya.
Secara rinci, LPS mencatat pada Desember 2025 simpanan dengan saldo hingga Rp5 juta tumbuh 6,49% yoy, membaik dibandingkan November 2025 yang sebesar 4,45%. Namun, perlambatan masih terjadi pada kelompok simpanan di atasnya. Simpanan dengan saldo Rp5 juta hingga Rp10 juta hanya tumbuh 6,62% yoy.
Pelemahan pertumbuhan lebih tajam terjadi pada simpanan menengah bawah. Simpanan dengan saldo Rp10 juta hingga Rp25 juta tumbuh 2,91% yoy pada Desember 2025, turun dari 3,99% pada November 2025. Sementara itu, simpanan Rp25 juta hingga Rp50 juta hanya tumbuh 2,24% yoy, lebih rendah dibandingkan 3,19% pada bulan sebelumnya.
Adapun simpanan dengan saldo Rp50 juta hingga Rp100 juta juga mencatat perlambatan, dengan pertumbuhan sebesar 2,51% yoy pada Desember 2025, dibandingkan 2,73% yoy pada November 2025. (H-3)
Riset KIMCI bisa menjadi acuan bagi berbagai pemangku kepentingan dalam memahami kondisi kelompok kelas menengah di Indonesia.
Dengan indikator makro ekonomi yang baik, pemerintah berupaya agar Indonesia tidak jatuh pada fenomena Chilean Paradox (Paradoks Cile).
Dosen IPB University mengungkap fenomena fake rich middle class di Indonesia, di mana gaya hidup mewah tidak sebanding dengan ketahanan finansial yang kokoh.
keputusan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global saat ini.
KETIDAKPASTIAN ekonomi global yang meningkat tajam dalam dua dekade terakhir dinilai mulai menggerus kepercayaan konsumen dan menekan kelas menengah Indonesia.
Di tengah isu pelemahan daya beli, kelas menengah dinilai masih kuat. Hal ini mendorong realisasi investasi properti Rp1 triliun di Bekasi.
DPR menolak wacana PPN jalan tol. Kebijakan dinilai berpotensi menambah beban masyarakat di tengah kenaikan harga BBM.
Presiden Prabowo Subianto bertemu Luhut Pandjaitan bahas strategi ekonomi nasional di tengah dinamika global, fokus stabilitas, daya beli, bansos digital, dan investasi.
dampak kenaikan tarif listrik 2026 terhadap daya beli, inflasi, dan strategi bertahan masyarakat
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpeluang melampaui proyeksi Bank Dunia.
Pemerintah menahan lonjakan tiket pesawat domestik di tengah kenaikan harga avtur global lewat subsidi, insentif pajak, dan penyesuaian fuel surcharge.
Polri ungkap selisih harga BBM dan LPG subsidi jadi pemicu utama penyalahgunaan. Disparitas harga membuka celah praktik ilegal dan membebani negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved