Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan tren pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dapat mengancam kinerja industri manufaktur di Tanah Air, khususnya sektor padat karya berorientasi ekspor. Kurs rupiah semakin melemah dengan berada di posisi Rp16.412 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (14/5).
Shinta menuturkan depresiasi rupiah semakin menambah beban operating expense (opex) atau biaya yang difungsikan untuk operasional sehari-hari perusahaan. Padahal,
beban opex dikatakan terus meningkat seiring dengan kenaikan upah, suku bunga dan beban lainnya.
Baca juga : Rupiah Anjlok, Pemerintah Diminta Selektif soal Impor
"Industri yang paling rentan terdampak dari pelemahan rupiah itu industri padat karya berorientasi ekspor. Dengan beban opex semakin berat, berimbas pada penurunan daya saing industri tersebut," ungkap Shinta kepada Media Indonesia, Selasa (18/6).
Depresiasi rupiah juga akan membuat kinerja industri-industri manufaktur nasional semakin tertekan karena cost of doing business atau biaya melakukan bisnis semakin mahal. Ini membuat bisnis industri orientasi ekspor menjadi tidak kompetitif.
Selain itu, nasib usaha di sektor padat karya berorientasi ekspor semakin merana dengan adanya penurunan permintaan pasar akibat gejolak ekonomi. Kekhawatiran adanya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran di industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, serta furniture di depan mata.
Baca juga : Terus Melemah, Rupiah Diperkirakan Bisa Tembus Rp17.000 per Dolar AS
"Dampak terparahnya itu terjadi PHK di industri-industri," imbuh Shinta.
Senada, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta menyampaikan pelemahan rupiah akan menambah beban usaha industri. Dia menyebut sekitar 30% bahan baku utama serat dan benang filament masih impor. Dengan adanya tren depresiasi nilai tukar, maka harga pembelian bahan baku semakin mahal.
"Saat rupiah melemah, maka beban biaya bahan baku sektor hulu meningkat. Dampaknya juga akan mempengaruhi cash flow (kas perusahaan)," jelasnya saat dihubungi secara terpisah.
Baca juga : Rupiah Menguat setelah Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan
Redma menambahkan masalah lainnya ialah adanya banjir produk impor yang dapat mengganggu penjualan industri TPT. Gempuran barang impor membuat utilitas industri tekstil dari hulu ke hilir hanya menjadi 45%.
"Dari awal permintaan kita cuma satu, kasih pasar domestik menguasai produk dalam negeri. Ini impornya direlaksasi terus, belum lagi impor ilegalnya. Jadi, neraca perdagangan TPT negatif," bilangnya.
Ketua Umum APSyFI itu pun menegaskan dengan deretan masalah bisnis yang dialami industri TPT sejak pandemi covid-19 dan ditambah dengan pelemahan kurs rupiah, maka tidak menutup kemungkinan pabrik-pabrik tekstil banyak yang tutup.
"Bukan lagi PHK massal, ini PHK sekalian tutup pabrik," pungkasnya. (Z-8)
Nilai tukar mata uang rupiah ditutup melemah ke Rp17.326 per dolar AS dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah dan peningkatan permintaan aset safe haven.
Nilai tukar rupiah melemah pada Rabu pagi ke level Rp17.275 per dolar AS. Dipicu kebuntuan negosiasi AS-Iran dan keluarnya UAE dari OPEC+.
Nilai tukar Mata Uang Rupiah dibuka melemah 32 poin ke level Rp17.275 per dolar AS pada Rabu (29/4) pagi akibat tekanan sentimen global.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke Rp17.229 per dolar AS. Pengamat menilai sentimen konflik Iran-AS dan kebijakan The Fed masih memengaruhi pasar.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah 12 poin ke level Rp17.223 pada Selasa (28/4). Simak analisis pergerakan mata uang rupiah di sini.
Mata Uang Rupiah Senin (27/4) pagi menguat 18 poin ke level Rp17.211 per dolar AS. Simak analisis pergerakan kurs dan sentimen pasar selengkapnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan fundamental ekonomi RI tetap kuat meski Rupiah tembus Rp17.300 per Dolar AS. Simak analisis dan strategi stabilisasinya.
Di Batam, pergerakan nilai tukar berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, mengingat tingginya ketergantungan pada barang impor dan transaksi lintas negara, khususnya Singapura.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved