Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Suku Bunga BI Dipangkas, Ekonom: Kebijakan Fiskal dan Moneter Harus Selaras
EKONOM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai ebijakan fiskal dan moneter harus selaras. Hal itu disampaikannya saat menanggapi langkah Bank Indonesia (BI) yang menurunkan kembali suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada Kamis (22/8).
Dengan penurunan suku bunga acuan tersebut, menurut Bhima, kebijakan fiskal juga harus merespons hal tersebut.
"Betul antara fiskal dan moneter harus selaras," kata Bhima kepada Media Indonesia, Sabtu (24/8).
Ia menyampaikan ada dua hal yang harus diselaraskan. Pertama, mengenai ruang fiskal untuk mendorong belanja yang produktif dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
Sayangnya, lanjut Bhima, pada Semester II 2019 ini pemerintah nampaknya justru akan melakukan pengetatan anggaran. Hal itu menyusul penerimaan pajak yang rendah.
"Pengetatan anggaran bisa dilihat dari pertumbuhan realisasi belanja modal sampai Juni 2019 yang turun 14,9% dibanding periode sebelumnya. Beberapa proyek infrastruktur yang konten impornya besar ditunda, mungkin itu penyebab belanja modalnya lambat. Juga belanja subsidi untuk menopang daya beli realisasinya turun 2,79%. Jadi, belum optimal genjot sisi belanja," tuturnya.
Baca juga: Kadin: Pemangkasan Suku Bunga BI Bantu Dunia Usaha
Maka itu, untuk menggenjot belanja yang produktif sebagai respons atas penurunan suku bunga acuan tersebut masih menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah, ucap dia, semestinya melonggarkan ruang fiskal di tengah kondisi ekonomi yang melambat.
"Bunga acuan sudah bergerak turun tapi fiskal belum responsif," imbuhnya.
Pelonggaran ruang fiskal melalui belanja yang produktif menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk menggenjot perekonomian. Pasalnya, menurut dia, pertumbuhan kredit ataupun kinerja sektor riil masih belum bisa dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Transmisi dari penurunan bunga acuan BI ke pertumbuhan kredit menjadi lebih lambat. Padahal, untuk ekonomi tumbuh di level 5,3% dibutuhkan pertumbuhan kredit minimum 15,9%. Dampak lain adalah kinerja sektor riil diperkirakan tahun ini dalam outlook yang slowdown. Upaya genjot ekonomi menjadi kurang optimal," paparnya.
Kedua, lanjut dia, perlunya koordinasi dalam penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Bhima menyampaikan koordinasi fiskal dan moneter masih lemah lantaran penerbitan utang dalam bentuk SBN yang cukup agresif kemudian menyedot likuiditas dari perbankan.
"Nasabah tarik uang deposito bank untuk membeli SBN. Akibatnya, meski BI turunkan bunga acuan 7DDR, dampak ke penurunan bunga kredit memakan waktu yang lama 3-5 bulan. Itu harus disinkronkan lagi momentum penerbitan SBN, pilihan SBN valas atau Rupiah, kemudian sasaran pembeli SBN-nya jangan sama dengan nasabah bank," pungkasnya.(OL-5)
Nilai tukar mata uang rupiah ditutup melemah ke Rp17.326 per dolar AS dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah dan peningkatan permintaan aset safe haven.
Guna menjaga ketahanan ekonomi, produktivitas sektor pertanian harus tetap terjaga melalui langkah-langkah antisipasi yang terukur.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan fundamental ekonomi RI tetap kuat meski Rupiah tembus Rp17.300 per Dolar AS. Simak analisis dan strategi stabilisasinya.
Kehadiran BEKISAH menjadi wujud ikhtiar Bank Indonesia untuk menebar maslahat, memperkokoh ukhuwah, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tren kenaikan harga minyak global yang tembus US$100 bpd menambah tekanan terhadap fiskal.
Nilai tukar Rupiah menyentuh Rp17.300 per USD akibat ketidakpastian global. BI perkuat intervensi dan pastikan cadangan devisa tetap kuat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved