Antisipasi Kemarau Panjang, BI Dorong Petani di Jabar Lakukan Intensifikasi

Bayu Anggoro
27/4/2026 19:31
Antisipasi Kemarau Panjang, BI Dorong Petani di Jabar Lakukan Intensifikasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muhammad Nur(MI/BAYU ANGGORO)

KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Barat memberi perhatian serius terhadap ancaman kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu stabilitas pangan di wilayah Jawa Barat.

Guna menjaga ketahanan ekonomi, produktivitas sektor pertanian harus tetap terjaga melalui langkah-langkah antisipasi yang terukur.

Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Barat Muhammad Nur menilai penting persiapan dini dalam menghadapi siklus cuaca ekstrem. Kesiapsiagaan ini seperti kisah Nabi Yusuf yang mempersiapkan lumbung pangan demi menghadapi masa paceklik yang panjang.

"Intinya adalah kalau kita ingin stabil, kita harus produksi swasembada. Kita harus mempersiapkan diri ke depan, meskipun mudah-mudahan El Nino tahun ini tidak terlalu ganas dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujarnya, di Bandung, Senin (27/4).

Dia menjelaskan, tantangan ketahanan pangan saat ini semakin kompleks seiring dengan tingginya permintaan pasar, termasuk bertambahnya kebutuhan untuk program makan bergizi gratis (MBG).

Menurutnya, tingginya permintaan harus diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang mencukupi agar harga di pasar tetap stabil.

Mengingat keterbatasan lahan di Jawa Barat yang menyulitkan langkah ekstensifikasi atau perluasan lahan baru, BI Jawa Barat mendorong optimalisasi melalui jalur intensifikasi pertanian.

"Karena lahan terbatas, kita lakukan secara intensifikasi. Caranya dengan penggunaan bibit unggul, pemanfaatan teknologi berbasis IoT, dan berbagai inovasi lainnya yang dapat mendorong peningkatan hasil panen," jelasnya.

Langkah intensifikasi ini, lanjut Nur, dilakukan melalui serangkaian program pembinaan yang melibatkan berbagai lini masyarakat. BI Jawa Barat aktif berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta menggandeng kelompok tani hingga pesantren melalui jaringan hebitren dan pesantren mandiri.

"Dengan sinergi yang kuat antara penggunaan teknologi pertanian modern dan pembinaan kelompok-kelompok produksi, Jawa Barat diharapkan mampu mempertahankan produktivitas pertaniannya meski di tengah ancaman kekeringan panjang," tandasnya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner