Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
THE Economic Intelligence Unit (EIU) mengungkap beberapa fakta terbaru terkait fenomena perang dagang yang tidak kunjung usai antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Ketegangan antara kedua negara itu tentu memberikan dampak signifikan bagi dunia. Ada negara yang mendapatkan manfaat. Sebaliknya, beberapa malah harus menelan pil pahit.
Baca juga: Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia
Apa pula negara yang mendulang hasil baik dari retaknya hubungan dagang AS-Tiongkok, yakni Vietnam dan Malaysia. Kedua negara itu mendapat keuntungan lantaran telah memiliki industri manufaktur yang memproduksi produk teknologi informasi seperti telepon seluler dan laptop.
Malaysia dan Vietnam tentu menjadi incaran baru bagi Negeri Paman Sam untuk pemenuhan kebutuhan produk-produk elektronik yang selama ini didatangkan dari Negeri Tirai Bambu. Saat ini, ada tiga pabrikan elektronik raksasa di Malaysia yakni Dell, Sony dan Panasonic. Adapaun, di Vietnam, terdapat Samsung dan Intel.
"Kedua negara telah mendapat investasi yang besar di sektor produk elektronik. Mereka juga telah memiliki infrastruktur yang sangat baik untuk mendukung pengembangan logistik," tulis laporan EIU, Senin (17/6).
Indonesia juga mendapat keuntungan untuk sektor yang sama. Hanya saja, manfaat tidak sebesar dua negara tetangga tersebut. Indonesia, sebut laporan IEU, bisa mengambil keuntungan dengan mengamankan inevestasi-investasi yang sebelumnya sudah atau mungkin akan ditanamkan di Tiongkok. Namun, Indonesia dianggap harus bersaing ketat dengan Thailand yang juga memiliki kesempatan yang sama.
Laporan EIU itu pun diamini peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Pingkan Audrine Kosijungan. Ia menekankan Indonesia harus sedapat mungkin memetik hasil dari perang dagang yang sedang berlangsung.
Sejak mengenakan tarif tinggi untuk berbagai produk, AS memang mengalihkan banyak impor dari Tiongkok. Indonesia, lanjut Pingkan, harus bisa masuk dan merebut pasar yang telah lepas tersebut.
"Ini bisa dilakukan untuk memangkas defisit neraca dagang dengan AS. Pilihan komoditas ekspor yang tepat dan strategi diplomasi perdagangan Indonesia perlu terus dioptimalkan agar penetrasi produk-produk Indonesia ke pasar AS dapat memperkecil defisit neraca perdagangan yang ada saat ini," ujar Pingkan.
Baca juga: Tahun Depan, Fokus Anggaran Kementerian BUMN untuk Belanja Modal
Indonesia, sambung dia, sebaiknya mengoptimalkan ekspor pada komoditas tekstil dan produk tekstil serta karet dan produk karet untuk masuk ke Negeri Paman Sam. Pasalnya, selama ini, dua komodias tersebut menempati tiga besar ekspor Tiongkok ke AS.
Namun, untuk bisa bersaing dengan negara lain yang tentu membidik hal serupa, Indonesia tentu harus meningkatkan kualitas proses pengolahan agar ada nilai tambah pada komoditas yang diekspor. (OL-6)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Pemerintahan Trump mengusulkan Visa Kartu Emas US$5 juta dan tarif untuk tekan utang AS senilai US$39 triliun. Simak analisis kelayakan dan dampaknya.
PERANG AS-Israel melawan Iran telah membuka aib rezim Donald Trump yang sesungguhnya.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
Presiden AS Donald Trump merespons insiden penyerangan di Washington Hilton. Ia membantah isi manifesto pelaku dan meminta acara segera dijadwalkan ulang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved