Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Lebih dari dua pertiga orang akan tidur sambil berbicara selama hidup mereka, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Sleep Medicine. Berbicara dalam tidur atau mengigau adalah gangguan parasomnia yang disebut somniloquy (gangguan tidur yang ditandai dengan berbicara selama tidur).
Dr. Kannan Ramar, profesor kedokteran di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, mengatakan bahwa para ahli tidak yakin mengapa hal itu terjadi.
"Beberapa tahap tidur berbicara dapat berlangsung selama 30 detik dan terjadi hanya sesekali, sementara yang lain melaporkan berbicara sambil tidur untuk jangka waktu yang lebih lama dan lebih sering dalam periode tidur," kata Rebecca Robbins, ilmuwan tidur di Brigham & Women's Hospital dan Instruktur Kedokteran di Sekolah Kedokteran Harvard seperti dilansir dari cnn.com, Senin (25/7).
Faktor genetika atau peningkatan konsumsi alkohol mungkin berperan, kata Ramar. Sedangkan faktor lainnya adalah stres yang berlebihan, tambahnya.
"Karena kecemasan dapat menjadi kontributor untuk berbicara sambil tidur, beberapa orang mungkin mengungkapkan perasaan, kekhawatiran, atau merenungkan hari mereka," ujar Ramar.
Pembicaraan dapat berkisar dari beberapa kata yang tidak masuk akal hingga kalimat lengkap dan biasanya tidak berbahaya, kata Robbins.
Para peneliti menganalisis pola bicara saat tidur lebih dari 230 orang dan menemukan kata yang paling umum adalah "tidak". Studi yang dipublikasikan di jurnal Sleep ini juga menemukan hampir 10% orang menggunakan kata-kata kotor saat tidur.
Studi ini juga menemukan bahwa orang-orang berhenti sejenak selama percakapan dalam pembicaraan tidur mereka untuk membiarkan orang imajiner berbicara kembali kepada mereka sebelum merespons. Ini menunjukkan bahwa otak yang tidur dapat berfungsi pada tingkat yang tinggi atau dapat menyesuailkan dengan kenyataan, ujar Robbins.
Robbins mengungkapkan berbicara sambil tidur biasanya tidak berbahaya dan tidak terkait dengan masalah mental atau fisik apa pun. Dia menyarankan orang berbicara tentang tidur mereka berbicara dengan pasangan mereka.
Lebih lanjut, Robbins menambahkan bahwa memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi konsumsi alkohol dan meningkatkan jam tidur dapat membantu. Selain itu, penting juga untuk menemukan cara dalam mengurangi stres.
Ramar juga menambahkan orang tidak boleh minum kafein di sore hari dan mereka harus mencoba tidur dan bangun pada waktu yang sama untuk mengatur energi mereka.
Jika hal ini tidak berhasil, Robbins merekomendasikan orang menemui spesialis tidur sehingga mereka dapat melakukan rekaman tidur semalaman untuk menganalisis dan menyelesaikan situasi dengan lebih baik. (CNN/M-2)
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Riset terbaru mengungkap 74,6% konsumen Indonesia menggunakan AI untuk cari produk. Simak fenomena Silver Surfer Paradox dan dampaknya bagi bisnis.
BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Secara ilmiah, stres berkaitan dengan respons tubuh terhadap tekanan yang dikenal sebagai fight or flight response, yaitu reaksi alami tubuh saat menghadapi ancaman
Psikolog klinis Teresa Indira Andani menjelaskan perbedaan mendasar antara emosi dan stres serta cara tepat mendampingi orang yang sedang tertekan.
STRES tidak selalu muncul dalam bentuk rasa tertekan atau sedih yang jelas.
Perjalanan mudik yang panjang dan melelahkan sering kali menjadi pemicu kekambuhan bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Stres tidak hanya memengaruhi mental tetapi juga penampilan. Dari jerawat hingga rambut rontok, berikut 10 perubahan pada wajah dan tubuh akibat stres.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved