Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR dua pertiga dari 1,2 juta orang yang disurvei di seluruh dunia mengatakan, saat ini umat manusia menghadapi keadaan darurat iklim. Demikian menurut survei PBB belum lama ini. Para peneliti di Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Universitas Oxford melaporkan, dari semua responden di 50 negara yang menampung lebih dari setengah populasi global, tua dan muda, kaya maupun miskin, juga memilih dari sejumlah pilihan kebijakan dalam kuisioner yang mereka berikan, untuk mengatasi masalah ini (perubahan iklim).
Temuan itu menunjukkan bahwa gerakan iklim global di akar rumput yang menglobal pada 2019, sebagian dipelopori remaja berusia 16 tahun asal Swedia, Greta Thunberg, masih mendapatkan momentum.
"Kekhawatiran tentang keadaan darurat iklim jauh lebih luas daripada yang kita ketahui sebelumnya," kata Stephen Fisher, sosiolog di Oxford yang membantu merancang survei dan memproses data, kepada AFP dalam sebuah wawancara, Rabu (27/1)
"Dan sebagian besar dari mereka yang menyadari keadaan darurat iklim menginginkan tindakan yang segera dan komprehensif."
Survei singkat yang memanfaatkan inovasi teknologi ini muncul seperti iklan di aplikasi gim ponsel, sehingga memberi kesempatan peneliti terhadap akses ke demografi yang mungkin tidak menanggapi jajak pendapat publik yang umumnya dilakukan selama ini.
Kesenjangan gender
Di tingkat nasional, sekitar 80% orang di Inggris, Italia, dan Jepang mengungkapkan kekhawatiran serius tentang dampak perubahan iklim, yang telah secara nyata meningkatkan intensitas gelombang panas, kekeringan dan curah hujan yang menyebabkan banjir, serta badai yang semakin merusak dengan naiknya permukaan air laut. (lihat grafik di atas)
Prancis, Jerman, Afrika Selatan dan Kanada berada di urutan berikutnya, dengan lebih dari tiga perempat dari mereka yang disurvei menggambarkan ancaman tersebut sebagai "darurat global".
Di belasan negara lainnya, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Vietnam, dan Brasil, dua pertiga responden memandang hal itu dengan cara yang sama.
Sementara itu, hampir 75% penduduk di negara-negara pulau kecil, beberapa menghadapi kemungkinan kehilangan Tanah Air mereka karena naiknya air laut, menganggap ancaman iklim sebagai keadaan darurat.
Disusul negara-negara berpenghasilan tinggi (72%), negara-negara berpenghasilan menengah (62%), dan negara-negara tertinggal (58%).
Distribusi di antara kelompok usia dari mereka yang merasa kondisi saat ini sebagai "darurat iklim" berkisar dari 69% di antara mereka yang di bawah 18 tahun, hingga 66% di kelompok usia 36-59 tahun. Hanya untuk orang berusia 60 tahun ke atas, angka tersebut turun sedikit di bawah 60%.
Anehnya, 11% dan 12% lebih banyak wanita daripada pria menyatakan kekhawatiran tinggi tentang pemanasan global di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan secara global, disparitas itu menyusut rata-rata menjadi 4% di antara 50 negara yang disurvei.
"Tindakan iklim yang mendesak mendapat dukungan luas di antara orang-orang di seluruh dunia, lintas kebangsaan, usia, jenis kelamin dan pendidikan," kata ketua UNDP Achim Steiner.
"Tapi lebih dari itu, jajak pendapat ini mengungkapkan bagaimana orang ingin pembuat kebijakan mereka mengatasi krisis ini."
Solusi paling populer di antara yang ditawarkan adalah melindungi hutan dan habitat alam, yang dipilih oleh 54% responden.
Solusi lainnya yang dipilih antara lain, pengembangan tenaga surya, angin, dan bentuk lain dari tenaga terbarukan, penggunaan teknik pertanian yang ramah iklim, dan berinvestasi lebih banyak dalam bisnis dan pekerjaan ramah lingkungan.
Di daftar terbawah, yang mendapatkan dukungan hanya dari 30%, adalah promosi pola makan tanpa daging, dan penyediaan asuransi yang terjangkau.
Hasil survei ini memperkuat studi terbaru yang menunjukkan bahwa beberapa negara, dan mungkin masyarakat global, bisa menggaungkan opini publik yang akan mendorong percepatan transisi ke dunia yang bebas karbon.
"Mencapai dekarbonisasi global yang cepat untuk menstabilkan iklim sangat bergantung pada mengaktifkan proses perubahan sosial dan teknologi yang menular dan cepat menyebar," kata para peneliti dari Institut Potsdam yang dipimpin oleh lona Otto dan Hans Joachim Schellnhuber, dalam jurnal ilmiah PNA, tahun lalu.
“Sama seperti penyebaran penyakit menular, gerakan sosial yang positif, apakah melarang perbudakan, atau menerapkan demokrasi, kemungkinan tidak dapat dicegah dan sulit dihentikan begitu mereka melewati ambang tertentu,” catat mereka.
"Ada bukti anekdot baru-baru ini bahwa protes, seperti pemogokan iklim #FridaysForFuture, protes Extinction Rebellion, dan inisiatif seperti Green New Deal di AS, mungkin menjadi indikator perubahan norma dan nilai yang terjadi saat ini. " (AFP/M-4)
Pengamat energi Elrika Hamdi menilai kinerja positif PGEO menunjukkan industri energi panas bumi di Indonesia semakin mendapat tempat dalam bauran energi nasional.
Pengembangan PLTS dapat difokuskan pada optimalisasi potensi yang telah ada, termasuk PLTS terapung di waduk-waduk strategis serta peningkatan kapasitas pembangkit yang telah beroperasi.
PLN EPI mendorong pengembangan gasifikasi biomassa sebagai solusi percepatan program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik interkoneksi.
Di Kalsel potensi EBT diperkirakan mencapai 3.270 mega watt yang berasal dari energi tenaga surya, bayu, air, biogas serta biomassa.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan menyampaikan alokasi program mandatori B40 pada 2026 ditetapkan sebesar 15,646 juta kiloliter.
Fokus utamanya adalah penambahan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt, di mana 75% di antaranya ditargetkan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT).
Penguatan ekonomi hijau di kawasan ASEAN membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan lembaga internasional.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan kulit secara menyeluruh terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Program Save The Valley Journey menghadirkan rangkaian aktivitas edukatif seperti Ice Breaking Dance, Water Filter Making, dan Seed Bomb Making.
Menurut dia, monorail dipilih karena tidak menimbulkan emisi dan minim gangguan terhadap habitat hewan.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Produk UltraDex menghasilkan pembakaran lebih efisien sehingga menghasilkan performa mesin yang stabil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved