Gasifikasi Biomassa Dikembangkan di Daerah Terpencil

Andhika Prasetyo
15/4/2026 17:34
Gasifikasi Biomassa Dikembangkan di Daerah Terpencil
Penandatanganan pengembangan gasifikasi biomassa oleh PLN EPI dan KPP.(Antara)

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan gasifikasi biomassa sebagai solusi percepatan program dedieselisasi, khususnya di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik interkoneksi. Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa pemanfaatan biomassa kini tidak lagi sekadar alternatif, tetapi menjadi bagian dari pembangunan ekosistem energi baru terbarukan (EBT) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam keterangannya di Jakarta, ia menyebut potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton, namun baru dimanfaatkan sekitar 20 juta ton. Artinya, masih terdapat peluang besar untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Pengembangan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PLN EPI dan PT Karimun Power Plant (KPP) untuk pengembangan bisnis syngas berbasis gasifikasi biomassa, sebagai bagian dari upaya transisi energi dan pencapaian target net zero emission (NZE) 2060.

Menurut Hokkop, selama ini pemanfaatan biomassa lebih banyak difokuskan pada skema co-firing di PLTU. Namun, keterbatasan desain pembangkit dan infrastruktur membuat pendekatan tersebut belum optimal. Karena itu, gasifikasi biomassa menjadi jalur baru yang lebih fleksibel, terutama untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan sistem isolated.

“Gasifikasi biomassa ini menjadi solusi konkret untuk daerah yang masih bergantung pada solar. Selain menekan biaya energi, juga dapat mengurangi emisi,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, proyek percontohan dikembangkan di Karimun, Kepulauan Riau. 

Saat ini, fasilitas tersebut memiliki kapasitas sekitar 1 megawatt (MW) dan berpotensi ditingkatkan hingga 2–5 MW.

Direktur KPP, Arthur Palupessy, mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam transisi dari diesel ke biomassa adalah menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan baku. Untuk pembangkit 1 MW, kebutuhan biomassa bisa mencapai sekitar 35 ton per hari, sehingga dibutuhkan rantai pasok yang kuat dan berkelanjutan.

PLN EPI sendiri akan berperan sebagai agregator dan pengembang ekosistem biomassa, mulai dari pemetaan sumber bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga penyediaan teknologi gasifikasi dan distribusi syngas. Selain menghasilkan energi, proyek ini juga berpotensi menciptakan produk turunan seperti biochar yang memiliki nilai ekonomi tambahan.

Ke depan, PLN EPI menargetkan model ini dapat direplikasi di sekitar 200 lokasi PLTD di seluruh Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu menekan ketergantungan pada solar sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya