Industri Energi Panas Bumi semakin Mendapat Tempat

Media Indonesia
24/4/2026 07:28
Industri Energi Panas Bumi semakin Mendapat Tempat
Petugas mengecek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.(Antara/Arif Firmansyah)

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan pendapatan sebesar US$432,73 juta dan laba bersih sebesar US$137,67 juta serta mencatatkan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah (all time high) pada 2025. Pengamat energi sekaligus Member of the Supervisory Board Rumah Energi, Elrika Hamdi, menilai kinerja positif PGEO tersebut menunjukkan industri energi panas bumi di Indonesia semakin mendapat tempat dalam bauran energi nasional.

"Kalau melihat rencana transisi energi Indonesia ke depan, bisnis PGEO memiliki potensi tinggi untuk berkembang karena masih ada sejumlah lapangan panas bumi yang sedang dieksplorasi yang kemudian dapat dieksploitasi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Kinerja keuangan PGEO yang baik juga menandakan kemampuan manajemen PGEO dalam mengatur performa perusahaan secara keuangan maupun risiko teknis," kata Elrika dalam keterangan tertulis, Kamis (24/4/2026).

Elrika sepakat bahwa di antara berbagai sumber energi terbarukan, energi panas bumi sering disebut sebagai energi yang stabil dan paling efisien karena memiliki capacity factor yang bisa mencapai 90 persen dan berjalan sepanjang hari. Namun, menurut dia, sebelum sampai pada tahap eksploitasi, pengembangannya memerlukan waktu yang cukup panjang, terutama pada tahap awal, yakni pendekatan kepada masyarakat di sekitar wilayah yang kerap tidak mudah menerima lingkungannya dikembangkan menjadi proyek panas bumi.

"Kalau sudah beroperasi, pembangkit listrik panas bumi umumnya kinerjanya baik dan menguntungkan. Namun, tantangan utama justru berada pada proses awal identifikasi hingga ke eksplorasi, yang memerlukan waktu cukup panjang dan penuh risiko," ujar Elrika.

Mantan Deputy Head Just Energy Transition Partnership (JETP) itu menilai bahwa keberhasilan PGEO membukukan kinerja positif pada 2025 tidak hanya tercermin dari capaian bisnis semata, tetapi juga dari kontribusinya dalam membangun ekosistem energi baru terbarukan yang lebih matang. Menurutnya, konsistensi dalam pengelolaan proyek panas bumi menjadi fondasi penting dalam menciptakan kepastian di sektor yang selama ini dikenal memiliki risiko tinggi.

"Kinerja stabil seperti PGEO menjadi sinyal positif bagi pasar yang penting untuk mendorong investasi baru mengingat industri geotermal membutuhkan komitmen jangka panjang serta kepastian kebijakan," ucapnya.

Dengan kinerja yang terus menguat, Elrika berharap PGEO mampu menjadi katalis utama dalam mempercepat pengembangan energi panas bumi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta transisi energi global. Sejalan dengan hasil RUPS tersebut, perusahaan juga mencatatkan produksi listrik sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh) pada 2025 atau meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya