Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUSAHAAN inovasi energi asal Finlandia, Polar Night Energy, bersiap memulai pengujian teknologi "baterai pasir" terbaru. Berbeda dengan model sebelumnya, baterai ini dirancang untuk mengubah energi yang disimpan dalam bentuk panas kembali menjadi daya listrik yang dapat dialirkan langsung ke jaringan listrik (grid).
Teknologi ini menjadi langkah maju dari model baterai pasir yang sudah ada, yang sebelumnya hanya berfungsi menyimpan listrik terbarukan untuk memanaskan pasir hingga suhu 400 derajat Celsius, lalu mengekstraknya menjadi air panas atau uap.
CEO Polar Night Energy, Tommi Eronen, mengungkapkan model baru ini secara teknis "benar-benar berbeda" dari versi sebelumnya. Salah satu perbedaan mencolok terletak pada bentuknya; baterai ini menggunakan konfigurasi horizontal, berbeda dengan model lama yang berbentuk silo vertikal.
Dalam hal performa, baterai pasir ini diproyeksikan memiliki efisiensi sekitar 30% hingga 35%, angka yang sebanding dengan pembangkit listrik berbasis pembakaran fosil di Amerika Serikat yang rata-rata mencapai 39% pada 2023. Namun, keunggulan utamanya terletak pada kemampuan output ganda.
"Baterai baru ini akan mengeluarkan panas sekaligus listrik untuk meningkatkan efisiensi sistem hingga sekitar 90%," ujar Eronen.
Ia menambahkan teknologi ini sangat ideal bagi industri yang membutuhkan panas dan listrik secara bersamaan, seperti perusahaan utilitas.
Pilot proyek ini berlokasi di Valkeakoski, sekitar 150 kilometer di utara Helsinki. Konstruksi telah dimulai sejak Oktober 2025 dan fase pengujian dijadwalkan berlangsung selama dua setengah tahun. Selama periode ini, para insinyur akan menguji material baru yang mampu menahan suhu operasional yang jauh lebih tinggi guna meningkatkan efisiensi konversi energi.
Pihak perusahaan menyatakan bahwa konversi panas kembali ke daya ini akan sangat membantu dalam menyeimbangkan jaringan listrik, memangkas emisi, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Meski secara teknologi menjanjikan, tantangan terbesar baterai pasir ini terletak pada sisi ekonomi. Chief Operating Officer Polar Night Energy, Liisa Naskali, mengakui meyakinkan pelanggan untuk beralih ke teknologi ini tidaklah mudah karena biaya investasi yang tinggi.
"Satu tantangan saat menjual ini kepada pelanggan adalah harga investasinya yang sangat tinggi," kata Naskali. "Hampir tidak ada yang berani berinvestasi pada produk kami karena saat ini masih ada boiler serpihan kayu, dan serpihan kayu itu cukup murah."
Naskali menegaskan bahwa meski secara teknis baterai pasir power-to-heat-to-power dapat diwujudkan, fokus utama saat ini adalah menemukan solusi yang layak secara ekonomi. "Ini bisa dilakukan, tetapi dengan harga berapa?" pungkasnya. (Live Science/Z-2)
Indonesia tancap gas dalam mendorong transisi menuju energi hijau dengan menjadikan teknologi HVDC dan pengembangan PLTS berkapasitas 100 GW sebagai pilar utama.
Penemuan lithium dalam mineral pirit (emas palsu) pada batuan serpih kuno bisa merevolusi industri baterai kendaraan listrik dan energi bersih.
Penerapan biodiesel B40 telah menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada tahun 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025, atau berkurang 3,3 juta kiloliter.
Arief mencontohkan keberhasilan pengelolaan sampah menjadi listrik di TPA Benowo, Surabaya. Sekitar 1.600–1.800 ton sampah per hari mampu menghasilkan listrik hingga 12 megawatt.
Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) atau Indonesian Geothermal Association (Inaga) berupaya mengakselerasi pemanfaatan energi panas bumi melalui penyelenggaraan The 12th IIGCE 2026.
Mereka berencana membangun pabrik produksi Dimetil Eter (DME) dengan kapasitas tahunan 10.000 ton.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved