Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MINGGU ini, para pengamat bintang di seluruh dunia mendapat kesempatan langka untuk menyaksikan Cahaya Zodiak (zodiacal light). Sebuah fenomena langit yang subtil namun memukau.
Fenomena ini muncul sebagai kilauan redup berbentuk kerucut, yang meregang secara diagonal di sepanjang ekliptika (jalur orbit planet-planet di tata surya).
Cahaya zodiak sering kali disebut sebagai "fajar palsu" atau "senja palsu" karena penampilannya yang menyerupai cahaya pra-fajar. Namun, bagi pengamat yang sabar dan berada di lokasi gelap, pemandangan ini adalah pengingat visual akan materi yang membentuk tata surya kita.
Secara ilmiah, cahaya zodiak adalah kilauan lembut yang tercipta ketika sinar matahari dihamburkan oleh awan debu masif yang mengelilingi Matahari. Awan debu ini, yang dikenal sebagai Awan Debu Antarplanet (Interplanetary Dust Cloud), berbentuk seperti lensa atau pancake pipih yang sejajar dengan bidang ekliptika.
Dari mana debu ini berasal? Para ilmuwan meyakini mayoritas partikel debu mikroskopis merupakan sisa-sisa dari komet yang menguap saat mendekati Matahari dan fragmen-fragmen hasil tabrakan asteroid di sabuk utama.
Seiring waktu, partikel-partikel ini menyebar dan terperangkap oleh gravitasi Matahari, membentuk struktur yang memancarkan cahaya zodiak saat tersinari.
Cahaya zodiak terlihat dari Bumi sebagai cahaya berbentuk segitiga (triangular) yang samar, meregang ke atas dari cakrawala. Bentuk ini adalah representasi visual dari awan debu berbentuk lensa tersebut. Awan paling padat berada di dekat Matahari (atau cakrawala saat fajar/senja), dan menipis seiring menjauhi pusat tata surya.
Waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah pada minggu-minggu di sekitar ekuinoks (titik balik matahari), yaitu pada musim semi (Maret/April) dan musim gugur (September/Oktober).
Hal ini karena pada periode tersebut, bidang orbit tata surya (ekliptika) berada pada sudut paling curam relatif terhadap cakrawala setelah senja atau sebelum fajar. Sudut yang curam ini memungkinkan cahaya zodiak meregang lebih tinggi ke langit, jauh dari polusi cahaya dan kabut cakrawala, sehingga lebih mudah dilihat.
Mengingat Cahaya Zodiak adalah salah satu fenomena langit paling redup, keberhasilan pengamatan sangat bergantung pada lokasi yang tepat dan waktu yang ideal.
Bagi pengamat di Belahan Bumi Utara, Cahaya Zodiak paling baik dicari di timur sebelum Matahari terbit, terutama pada ekuinoks musim gugur (seperti minggu ini).
Kilauan ini mungkin sangat menyerupai cahaya fajar yang sesungguhnya. Namun, karakteristiknya yang berbentuk irisan atau segitiga dan posisinya yang sejajar dengan ekliptika (bukan menyebar merata seperti fajar) menjadi pembeda utamanya.
Situasi berbalik bagi pengamat di Belahan Bumi Selatan.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa tata surya bukanlah ruang kosong, melainkan dipenuhi dengan sisa-sisa kosmik yang, ketika disinari Matahari, menciptakan pemandangan yang indah dan kuno.
(The Guardian/Z-2)
Fenomena langit Mei 2026 menghadirkan hujan meteor Eta Aquarid hingga Blue Moon langka. Simak jadwal lengkap dan cara terbaik melihatnya di sini.
Hujan meteor Lyrid diperkirakan mencapai puncak pada malam ini hingga dini hari. Simak waktu terbaik pengamatan, kondisi langit, dan tips melihatnya dari Indonesia.
Hujan meteor Lyrid 2026 capai puncak 22-23 April. Simak waktu terbaik, cara melihat, dan lokasi ideal untuk menikmati fenomena langit ini tanpa alat.
Kenapa bulan bisa terlihat berbeda di tiap negara? Ternyata bukan berubah bentuk. Ini penjelasan ilmiah soal orientasi bulan yang sering bikin bingung.
Menurut NASA, komet merupakan benda langit yang tersusun dari es, debu, dan batuan yang dapat menghasilkan ekor terang saat mendekati Matahari akibat pemanasan intens.
Profesor BRIN Thomas Djamaluddin memastikan benda langit viral di Lampung dan Banten pada 4 April adalah sampah roket Tiongkok CZ-3B yang terbakar di atmosfer. Simak kronologinya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved