Catat Tanggalnya! Hujan Meteor Lyrid Capai Puncak 22-23 April 2026

Abi Rama
20/4/2026 16:11
Catat Tanggalnya! Hujan Meteor Lyrid Capai Puncak 22-23 April 2026
Hujan meteor Lyrid 2026 capai puncak 22-23 April.(Dok. Freepik)

FENOMENA hujan meteor Lyrid diperkirakan kembali menghiasi langit Indonesia pada akhir April 2026. Peristiwa astronomi tahunan ini menjadi salah satu yang paling dinantikan karena dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik.

Hujan meteor Lyrid terjadi saat Bumi melintasi jalur puing debu yang ditinggalkan Komet C/1861 G1 Thatcher. Komet ini memiliki periode orbit sangat panjang, yakni sekitar 415 tahun untuk mengelilingi Matahari. Meski kometnya kini berada jauh dari bagian dalam Tata Surya, sisa materialnya masih rutin berinteraksi dengan atmosfer Bumi setiap tahun.

Berdasarkan data NASA dan International Meteor Organization, partikel debu dari komet tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 49 kilometer per detik saat memasuki atmosfer Bumi. Gesekan dengan udara membuat partikel terbakar dan menghasilkan kilatan cahaya yang tampak sebagai meteor.

Puncak Terjadi 22-23 April 2026

Secara keseluruhan, hujan meteor Lyrid aktif pada 15 hingga 29 April 2026. Namun, puncak aktivitasnya diperkirakan terjadi pada malam 22 hingga 23 April 2026.

Waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar, ketika langit berada dalam kondisi paling gelap.

Pada periode tersebut, gangguan cahaya bulan juga relatif minim sehingga peluang melihat meteor menjadi lebih besar.

Dalam kondisi langit cerah dan minim polusi cahaya, pengamat berpeluang melihat sekitar 10 hingga 15 meteor per jam. Meski demikian, hujan meteor Lyrid dikenal memiliki karakter yang tidak selalu stabil dan sesekali dapat mengalami lonjakan jumlah meteor.

Arah Pengamatan dan Tips Melihat Meteor

Hujan meteor Lyrid tampak berasal dari titik radian di rasi Lyra, yang ditandai oleh bintang terang Vega. Dari wilayah Indonesia yang berada di Belahan Bumi Selatan, titik radian ini tidak terlalu tinggi di langit dan baru terlihat beberapa jam sebelum fajar.

Kondisi tersebut membuat waktu pengamatan lebih terbatas dibandingkan wilayah di Belahan Bumi Utara. Meski begitu, meteor tetap dapat terlihat melintas di berbagai bagian langit, sehingga pengamat tidak harus selalu mengarahkan pandangan tepat ke titik radian.

Untuk mendapatkan pengalaman terbaik, masyarakat disarankan mencari lokasi dengan langit gelap yang jauh dari polusi cahaya, seperti daerah perbukitan atau pedesaan. Selain itu, mata perlu dibiarkan beradaptasi dengan kegelapan selama sekitar 20 hingga 30 menit agar lebih peka terhadap cahaya redup.

Salah Satu Hujan Meteor Tertua dalam Sejarah

Hujan meteor Lyrid juga memiliki nilai historis yang panjang. Fenomena ini tercatat sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah diamati manusia, dengan catatan sejarah mencapai sekitar 2.700 tahun.

Catatan pengamatan kuno dari Tiongkok bahkan menyebutkan meteor Lyrid pernah terlihat jatuh seperti hujan pada tahun 687 sebelum masehi. Hingga kini, fenomena tersebut tetap menjadi salah satu pertunjukan langit yang dinanti setiap tahun. (EarthSky/Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya