El Nino Mengintai, Petani harus Adaptif Hadapi Kemarau Panjang

Amiruddin Abdullah Reubee
18/4/2026 10:03
El Nino Mengintai, Petani harus Adaptif Hadapi Kemarau Panjang
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Profesor Sugianto saat melakukan survei di persawahan kawasan Kabupaten Aceh Besar.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

Ancaman kekeringan akibat fenomena iklim global mulai terasa di Aceh, mendorong kalangan akademisi mengingatkan pentingnya strategi adaptasi bagi sektor pertanian. Fenomena El Nino diperkirakan mulai berdampak luas di Aceh pada Mei hingga Juni 2026. Bahkan, sejumlah wilayah seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang telah lebih dulu mengalami kekeringan sejak Februari hingga Maret.

Durasi kemarau di beberapa kawasan diperkirakan bisa berlangsung hingga 10 bulan, meski sesekali diselingi hujan. Secara umum, puncak musim kering di wilayah ini diprediksi terjadi pada Juni hingga Agustus 2026.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Sugianto, mengingatkan bahwa fenomena ini tidak dapat dicegah, sehingga petani harus mampu beradaptasi dengan kondisi alam.

Ia mengimbau petani, khususnya yang menanam padi musim gadu, untuk mempercepat pengolahan lahan dan segera menanam selagi ketersediaan air masih mencukupi.

“Petani harus segera membajak sawah dan tidak berlama-lama mengolah tanah. Sebelum El Nino datang, lahan harus sudah selesai ditanami,” ujarnya.

Selain itu, ia menyarankan agar proses persemaian dilakukan lebih awal dan di lokasi yang mudah diawasi, seperti di sekitar rumah, guna memastikan ketersediaan air tetap terjaga.

“Boleh menyemai di pekarangan rumah atau menggunakan wadah yang mudah dipindahkan. Saat lahan siap tanam, bibit juga sudah cukup umur, sehingga tidak perlu menunggu lagi,” tambahnya.

Strategi lain yang dinilai penting adalah pemilihan varietas padi yang tahan terhadap kondisi panas dan keterbatasan air, guna meminimalkan risiko gagal panen. Sugianto juga menekankan pentingnya penguatan cadangan air sebagai langkah antisipatif menghadapi musim kemarau panjang.

“Ketersediaan sumber air harus menjadi prioritas utama,” katanya.

Dengan langkah adaptif tersebut, diharapkan petani tetap dapat menjaga produktivitas di tengah tekanan perubahan iklim yang semakin nyata. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya