Kampung Bulak Barat Depok Berubah Jadi Danau Sampah

Kisar Rajagukguk
23/4/2026 17:33
Kampung Bulak Barat Depok Berubah Jadi Danau Sampah
Aliran Kali Pesanggrahan tersumbat, Kampung Bulak Barat kini terendam bak danau .(MI/Kisar Rajagukguk)

KAWASAN permukiman Kampung Bulak Barat, RT 003 RW 08, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, berubah menjadi 'danau dadakan' akibat luapan Kali Pesanggrahan yang tersumbat longsoran sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung. Kondisi ini mengakibatkan aktivitas warga lumpuh total, kerusakan infrastruktur jalan, hingga matinya lahan pertanian milik warga.

Ketua RT 003/RW 08 Kampung Bulak Barat, Nurmat Bery, mengungkapkan bahwa banjir besar ini terjadi karena overflow air yang melampaui kapasitas kali setelah aliran air terhambat tumpukan sampah.

"Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, yang berada di bantaran Kali Pesanggrahan longsor hingga menutup aliran kali. Kondisi tersebut menyumbat laju air dan menyebabkan banjir di Kampung Bulak Barat RT 003 RW 08, Kelurahan Cipayung," kata Nurmat Bery, dikutip Kamis (23/4).

Nurmat menambahkan, genangan air yang menyerupai danau tersebut mengisolasi warga. Dua akses jalan utama yang menghubungkan Kelurahan Cipayung dan Kelurahan Pasir Putih kini tidak dapat dilalui kendaraan. "Warga terpaksa melewati jalan alternatif untuk keluar kampung, hasil pertanian tidak bisa diangkut, dan aktivitas ekonomi lumpuh," ujarnya.

Satu akses jalan diketahui terendam air dengan kedalaman lebih dari dua meter, sementara jalan lainnya masih bisa dilalui namun dengan risiko tinggi karena genangan mencapai hampir dua meter. Dampak kerusakan lingkungan pun masif; ribuan pohon kelapa, durian, pisang, hingga tanaman palawija mati akibat terendam air yang bercampur limbah sampah.

Desakan Penutupan TPA Cipayung
Kondisi TPA Cipayung yang sudah melebihi kapasitas (overload) menuai protes keras dari masyarakat sekitar. Nelson, salah satu warga terdampak, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk segera menutup permanen TPA tersebut demi keamanan dan kesehatan.

"Kami warga mendesak TPA ditutup permanen. Tiap hari warga mencium bau busuk yang menyengat dan khawatir akan makan korban jiwa jika TPA Cipayung sewaktu waktu longsor sampah," ucap Nelson.

Ia juga mengkritik kebijakan Pemkot Depok yang dinilai lamban dalam merealisasikan pemindahan tonase sampah ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo di Kabupaten Bogor.

"Pemerintah Kota Depok hanya omon omon dan tidak sungguh-sungguh menangani sampah di TPA Cipayung. Katanya, tonase sampah di TPA Cipayung akan dibuang ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo di Kabupaten Bogor, namun sampai sekarang tak kunjung ada bukti," ketusnya.

Respons Pengelola TPA
Menanggapi hal tersebut, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Cipayung, Ferry Dewantoro, mengakui adanya kendala dalam skema pembuangan sampah ke luar wilayah Depok. "Kami sekarang hanya memanfaatkan lahan yang ada aja," kata Ferry.

Ferry menjelaskan bahwa pihaknya pernah melakukan uji coba pembuangan ke TPPAS Lulut Nambo, namun kerja sama tersebut sempat terhenti. Upaya menggandeng pihak ketiga untuk pengelolaan sampah secara modern pun diakuinya pernah dicoba namun belum membuahkan hasil hingga saat ini. (KG/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya