Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MAFIA peradilan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok, Jawa Barat, bukan lagi sekadar rahasia umum. Dugaan praktik suap dan permainan perkara kini diperkuat fakta terbaru: pada awal Februari 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) yang menyeret pimpinan tertinggi PN Depok.
Kasus ini memunculkan kembali sorotan terhadap sejumlah perkara sengketa tanah yang sebelumnya diputus kontroversial.
“Saya pernah berperkara dengan PT Kraba Digdaya. Tanah saya seluas 1.000 meter persegi diklaim perusahaan itu sebagai miliknya, dan saya dikalahkan PN Depok. Padahal saya punya bukti sah seperti surat girik,” kata pengusaha properti Nurhasim, Minggu (8/2).
Nurhasim menjelaskan, lahan tersebut berada di Kelurahan Tapos dan telah ia kuasai puluhan tahun, sejak dirinya menjabat Kepala Desa Sukamaju Baru.
Saat ia menjadi kepala desa pada 1980, lahan itu masuk wilayah Kecamatan Cimanggis dan tidak pernah bermasalah. Namun setelah pemekaran wilayah dan Tapos berdiri sebagai kecamatan sendiri, klaim sepihak dari PT Kraba Digdaya tiba-tiba muncul.
“Sebagai pemilik sah, saya mengajukan gugatan perdata ke PN Depok. Tapi anehnya saya justru dikalahkan, sementara perusahaan dimenangkan,” ujarnya.
Nurhasim, yang juga mantan anggota DPRD Kota Depok periode 2019–2024, mempertanyakan dasar putusan tersebut.
Tidak puas, ia menempuh banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Hasilnya sama: kembali kalah. Upaya kasasi ke Mahkamah Agung pun tak mengubah keadaan.
“Di MA, putusan PN dan PT justru dikuatkan. Sejak itu tanah 1.000 meter persegi milik saya berpindah tangan menjadi milik PT Kraba Digdaya,” katanya.
Nurhasim menduga ada permainan terselubung dalam perkara tersebut.
“Pasti ada apa-apanya,” tegasnya.
Ia juga menyinggung perkara lain, yakni sengketa tanah seluas 6.520 meter persegi antara tiga warga Kelurahan Tapos dengan PT Kraba Digdaya yang terjadi pada 2023.
Dalam perkara itu, PN Depok mengabulkan gugatan PT Kraba Digdaya, badan usaha di lingkungan Kementerian Keuangan RI. Putusan tersebut kembali dikuatkan melalui upaya banding dan kasasi.
Pada 2025, PT Kraba Digdaya mengajukan permohonan eksekusi pengosongan lahan berdasarkan putusan tersebut. Namun hingga Februari 2025, eksekusi belum dilaksanakan.
Perusahaan kemudian berulang kali mengajukan permohonan eksekusi dengan alasan lahan akan segera dimanfaatkan.
“Atas permohonan itu, Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta dan wakilnya Bambang Setyawan memenuhi permintaan eksekusi. Mereka juga memerintahkan Yohansyah Maruanaya menjadi satu pintu yang menjembatani kebutuhan PT Kraba Digdaya dengan PN Depok,” ungkap Nurhasim.
Tak lama berselang, KPK melakukan OTT dan menetapkan lima tersangka.
Mereka adalah Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta, Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan, juru sita Yohansyah Maruanaya, Direktur Utama PT Kraba Digdaya Trisnadi, serta Head Corporate Legal PT Kraba Digdaya Berliana Tri Kusuma. (Z-10)
Hakim nonaktif Djuyamto membantah mengenal dan menerima uang secara langsung dari terdakwa Muhammad Syafei (Wilmar Group) saat bersaksi dalam sidang suap vonis lepas CPO.
Sistem pengawasan Komisi Yudisial (KY) yang terlalu kaku dan formal menjadi salah satu penyebab kurang efektifnya pemberantasan mafia peradilan.
Dari penggeledahan di rumah Zarof pada Oktober 2024, penyidik Jampidsus Kejagung menyita uang dengan total Rp920 miliar dan emas seberat 51 kilogram.
LANGKAH Mahkamah Agung (MA) untuk memutasi 199 hakim belum cukup menjadi panasea atas sejumlah masalah di lingkungan lembaga peradilan yang terjadi belakangan ini.
Memberantas mafia peradilan tak cukup dengan melakukan mutasi besar-besaran terhadap hakim seperti yang dilakukan Mahkamah Agung (MA).
Akses menuju pendopo Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur yang juga merupakan rumah dinas bupati, masih ditutup rapat pasca-OTT KPK.
KPK menetapkan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo bersama ajudannya Dwi Yoga Ambal sebagai tersangka usai operasi tangkap tangan pada 11 April 2026. Kasus ini menambah panjang daftar kepala daerah yang tumbang lewat OTT KPK sepanjang 2026.
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo bersama ajudannya Dwi Yoga Ambal menjalani pemeriksaan setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Gedung Merah Putih KPK.
Dalam kasus ini, ada 18 orang tertangkap di Tulungagung. Dari total itu, sebanyak 13 orang dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan.
Uang sitaan itu diberikan ke Gatut lewat Yoga yang merupakan orang kepercayaannya. Dalam pemeriksaan, uang bakal digunakan untuk kepentingan pribadi Gatut.
Karena perjanjian itu, Gatut berani meminta uang kepada kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan lainnya, karena adanya klausul manut perintah bupati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved