Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NAMA Duddy Setiabudhi, mendadak viral lewat pesan berantai sebuah aplikasi percakapan WhatsApp. Media Indonesia pun sempat kesulitan untuk menghubunginya. Duddy dikaitkan dengan plastik ramah lingkungan berbahan oxium. Plastik ini diklaim aman digunakan untuk makanan lantaran dibuat dari bahan baku ketela.
Baca juga: Anggota DPRD Sibuk, Rapimgab Pilwagub DKI Terus Tertunda
“Sudah tiga tahun saya menggunakan plastik ini, proses penguraiannya sudah saya lakukan sendiri,” ungkap Duddy, 64, saat dihubungi Kamis (25/7).
Duddy menjelaskan, plastik oxium ini pernah ia kubur selama 2 tahun di halaman rumahnya. Saat digali kemudian plastik tersebut sudah tidak ada.
Seorang pensiunan yang kini ngantor di Ruko Pasar Modern Sinpasa Summarecon Bekasi ini mengaku lebih yakin untuk membantu pemasaran plastik oxium tersebut. Namun, pertama kali ia memasarkannya lewat rekan organisasi Islam yakni Muhammadiyah.
Lewat aplikasi percakapan WhatsApp, dia juga mengajak masyarakat lain untuk menggunakan plastik yang dijualnya seharga Rp20 ribu per pack dengan isi 200 lembar plastik. “Plastik ini sebetulnya bukan barang produksi saya, tapi punya orang lain. Saya hanya menjualnya kembali,” ujarnya.
Duddy menuturkan, penjualan plastik berbahan Oxium ini dilakukan secara tidak sengaja. Awalnya, sebagai kontraktor yang mengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Palembang, Sumatera Selatan ia ditawari seorang rekanan perusahannya.
Saat itu, ketika ia membeli bahan ecoplas untuk kebutuhan TPA di Palembang, pihak perusahaan memperkenalkan plastik berbahan Oxium yang diklaim ramah terhadap lingkungan. “Karena saat itu saya ada rejeki, jadi saya beli plastik ini sebanyak tiga karung sekitar Rp3,5 jutaan. Plastik ini kemudian saya bagikan ke rekan-rekan pengurus Pengurus Cabang Muhammadiyah (PCM),” imbuhnya.
Menjelang Idul Adha 1439 H kemarin, dia kembali membeli plastik tersebut dari rekanan perusahaannya. Namun saat itu, sebagian karung dibagikan secara gratis dan sisanya dijual kembali ke rekannya di sejumlah provinsi Indonesia.
Untuk Idul Adha 1440 H kali ini pun, Duddy kembali menawarkan kantong plastik serupa ke masyarakat. Bahkan, sejak dua hari terakhir, panggilan telepon di ponselnya tidak pernah berhenti karena banyak pesanan dari berbagai daerah. “Tadi ada yang telepon dari Jayapura, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi dan sebagainya. Yah termasuk warga Kota Bekasi juga ada yang pesan,” jelasnya.
Baca juga: MRT Jakarta Segera Hadirkan Transit Plaza di Kawasan Lebak Bulus
Meski demikian, Duddy mengaku tak mencari keuntungan dari penjualan ini. Meskipun demikian, pada kenyataannya, ia menyebut laba sebesar Rp3 ribu dari satu pak plastik yang ia jual. Sebab, harga satu plastik tersebut dari perusahaan adalah sebanyak Rp17 ribu dan ia jual sebesar Rp20 ribu. “Ada keuntungan Rp3 ribu, nah keuntungan ini saya alihkan untuk membeli plastik lagi dan plastiknya akan saya berikan kepada masyarakat jelang Idul Adha,” jelas dia.
Duddy mengaku memang sengaja membagikan pesan ini agar umat Islam bisa memanfaatkan plastik ramah lingkungan dalam proses pembagian hewan pada Idul Adha 1440 H pada Agustus mendatang. Selain harganya terjangkau, plastik yang dijualnya ini diprediksi mampu mengangkat beban seberat 3 kilogram. “Mudah-mudahan bisa mengurangi sampah plastik yang ada dan aman untuk makanan,” tandas dia. (OL-6)
Pemerintah resmi membebaskan bea masuk bahan baku plastik selama enam bulan untuk menekan dampak kenaikan harga global dan menjaga stabilitas industri, terutama sektor kemasan.
Dukungan pendanaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) berperan penting dalam menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku produsen makanan.
Pemahaman masyarakat terkait jenis dan fungsi plastik dinilai masih terbatas, padahal penggunaan yang tidak tepat dapat berdampak pada keamanan serta kualitas produk.
Budi Santoso menyebut pemerintah tengah mengupayakan impor bahan baku plastik dari negara alternatif. Hal itu untuk mengatasi terganggunya pasokan dari Timur Tengah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, usulkan penggunaan daun pisang sebagai alternatif plastik, merespons kenaikan harga plastik yang berdampak pada masyarakat.
Di Pasar Kite Sungailiat Bangka harga cabai rawit saat ini dijual Rp75 ribu per kg untuk lokal, sedangkan cabai rawit luar Rp75 ribu per kg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved