Duh, Ada Kapal Perang AS di Selat Malaka, Ini Penjelasan Menlu

Ferdian Ananda Majni
22/4/2026 16:36
Duh, Ada Kapal Perang AS di Selat Malaka, Ini Penjelasan Menlu
Kapal perang AS(Aljazeera)

MILITER Amerika Serikat (AS) tengah menjalankan patroli kapal perang di Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia. Kehadiran armada tersebut memicu perhatian publik di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menilai aktivitas tersebut bukan hal yang luar biasa. Ia menyebut patroli semacam itu merupakan bagian dari praktik yang sudah lazim dilakukan di perairan internasional.

"Saya kira mereka biasa ya, patroli di kawasan. Ada yang namanya Freedom of Navigation Patrol, kan," kata Sugiono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/4).

"Itu bukan baru kok, bukan sesuatu yang baru," tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Staf Gabungan militer AS, Dan Caine menyatakan bahwa kapal perang Amerika kemungkinan akan melakukan pencegatan di jalur Selat Malaka sebagai bagian dari operasi maritim yang lebih luas.

Menurut laporan media pelayaran Lloyd’s List, kawasan Indo-Pasifik terutama di sekitar Selat Malaka menjadi salah satu titik konsentrasi kapal tanker gelap yang diduga mengangkut minyak ilegal, termasuk dari Iran.

"Kami juga menjalankan aktivitas dan tindakan pencegahan maritim di Area Tanggung Jawab Pasifik terhadap kapal-kapal yang meninggalkan wilayah tersebut sebelum kami memulai blokade," kata Caine kepada CNN.

Pengamat dari organisasi nirlaba United Against Nuclear Iran, Charlie Brown menilai pernyataan tersebut mengindikasikan Washington membuka peluang untuk melakukan operasi serupa terhadap kapal tanker di kawasan lain, termasuk yang terkait Venezuela.

Salah satu kapal yang teridentifikasi dalam pergerakan ini adalah USS Miguel Keith. Kapal tersebut diketahui melintasi Selat Malaka pada 18 April sebagai bagian dari operasi rutin Armada ke-7 AS.

Otoritas TNI Angkatan Laut memastikan bahwa perlintasan kapal perang AS tersebut dilakukan sesuai hukum internasional, khususnya hak lintas damai atau transit passage di jalur pelayaran internasional.

Meski disebut sebagai aktivitas rutin, keberadaan kapal perang AS di jalur strategis ini tetap menjadi sorotan, terutama karena lokasinya yang menghubungkan arus perdagangan global antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa serta berdekatan dengan dinamika konflik yang sedang berlangsung. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya