AS Blokade Pelabuhan Iran, Pengamat Soroti Upaya Jaga Muka dan Tekanan Militer

Ferdian Ananda Majni
14/4/2026 19:00
AS Blokade Pelabuhan Iran, Pengamat Soroti Upaya Jaga Muka dan Tekanan Militer
Ilustrasi(Yashinta Difa)

MILITER Amerika Serikat (AS) secara resmi memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran pada Senin (13/4) guna membuka akses di Selat Hormuz. Langkah ini memicu pertanyaan mengenai arah strategi Washington di tengah ketegangan yang terus meningkat.

Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia, Suzie Sudarman menilai kebijakan tersebut tidak bisa dilepaskan dari karakter dasar politik luar negeri AS. Menurutnya, pendekatan yang diambil mencerminkan perpaduan antara tekanan militer dan upaya mencari jalan keluar tanpa kehilangan citra.

"Amerika itu berpegang pada gagasan gold, glory and power, artinya Amerika Serikat senantiasa mencari keuntungan, kemashuran (keagungan) dan kekuasaan," katanya dihubungi Media Indonesia, Selasa (14/4).

Ia menjelaskan bahwa konteks budaya juga memainkan peran penting dalam dinamika konflik ini. 

"Jadi dua konsepsi budaya bertarung Iran dengan semangat budaya Islamnya dan Amerika dengan budaya kapitalis murni," tambahnya.

Dalam situasi saat ini, Donald Trump disebut tengah berupaya menemukan jalan keluar cepat. Suzie menilai ada dua pendekatan yang digunakan secara bersamaan, yakni negosiasi dan tekanan militer.

"Trump kencang sekali mencari angle agar bisa exit tanpa kehilangan muka dengan dua cara satu dengan negosiasi dan satu lagi dengan ancaman yakni menempatkan pasukan di Timur Tengah dan aset peperangannya di seputar Iran," jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa jalur diplomasi tidak dapat memberikan hasil instan. "Negosiasi butuh waktu lama. Menyudahi Perang Vietnam butuh 4 tahun lamanya," ucapnya.

Di sisi lain, tekanan militer melalui blokade dinilai sebagai bentuk strategi untuk menekan Iran secara psikologis. 

"Bullying bisa dilakukan dengan menurunkan pasukan di sekitar Timur Tengah dan mengharap Iran menjadi was-was," ujarnya.

Suzie juga menilai bahwa langkah blokade tidak hanya bertujuan mengganggu aktivitas ekonomi Iran, tetapi juga memiliki dimensi politik domestik di AS. 

"Blokade adalah agar Iran tidak bisa menjual minyaknya dan menunjukkan publik Amerika bahwa Donald Trump berupaya untuk menang," katanya.

Menurutnya, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mempertahankan tekanan sambil menunggu kemungkinan terobosan diplomatik. Namun, ia menegaskan bahwa berbagai langkah yang diambil belum tentu menjamin kemenangan bagi AS.

"Terbukti segala cara tidak bisa dikategorikan sebagai benar-benar akan mencapai kemenangan untuk Amerika," pungkasnya. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya