Ketegangan belum Usai, AS Pertahankan Kekuatan Militer di Sekitar Iran

Ferdian Ananda Majni
09/4/2026 14:55
Ketegangan belum Usai, AS Pertahankan Kekuatan Militer di Sekitar Iran
Ilustrasi(Antara/Xinhua )

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menegaskan bahwa kekuatan militer negaranya tetap dalam kondisi siaga di sekitar Iran, meskipun kedua pihak telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Kamis (9/4), Trump menyatakan bahwa kesiapan tersebut merupakan langkah antisipatif jika kesepakatan tidak berjalan sesuai rencana. 

"Semua Kapal, Pesawat, dan Personel Militer AS, beserta Amunisi, Persenjataan, dan segala sesuatu yang sesuai dan diperlukan untuk penuntutan dan penghancuran mematikan terhadap Musuh yang sudah sangat melemah, akan tetap berada di dan sekitar Iran, sampai Kesepakatan sebenarnya yang telah disepakati dipatuhi sepenuhnya," tulisnya dilansir CNN, Kamis (9/4)

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil langkah lebih besar jika gencatan senjata gagal. 

"Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka penembakan dimulai, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya," lanjut Trump.

Trump menegaskan bahwa sikap tersebut telah direncanakan sejak awal, terlepas dari berbagai narasi yang berkembang. 

Ia kembali menekankan tujuan utama Washington, yakni menghentikan program nuklir Iran serta memastikan jalur perdagangan energi global tetap terbuka, khususnya di Selat Hormuz. 

"Tidak ada senjata nuklir dan selat Hormuz akan terbuka dan aman," tegasnya.

Dalam pernyataan yang sama, Trump juga menyebut bahwa militer AS saat ini berada dalam fase siaga sambil menunggu perkembangan situasi lebih lanjut. 

"Amerika akan kembali," tulisnya menutup pernyataan.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata pada Selasa (7/4) setelah lebih dari satu bulan konflik. Pembahasan lanjutan terkait kesepakatan jangka panjang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 10 April.

Pakistan sebagai mediator menyebut bahwa gencatan senjata turut mencakup sekutu kedua pihak, termasuk Lebanon, meski tidak secara rinci menyebut posisi Israel dalam kesepakatan tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungan terhadap keputusan Trump, namun menolak anggapan bahwa Libanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata.

Kurang dari 24 jam setelah pengumuman kesepakatan, Israel melancarkan serangan besar ke Libanon yang menewaskan sedikitnya 245 orang dan melukai ribuan lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Iran menyatakan kemarahannya dan menilai Amerika Serikat telah melanggar tiga poin penting dalam kesepakatan, yakni serangan ke Libanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan Washington terhadap hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya