Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SATU doa yang dipanjatkan oleh pendeta injili terkemuka, Franklin Graham, di Gedung Putih memicu gelombang kontroversi dan kritik tajam dari publik. Dalam narasinya, Graham melontarkan klaim keras terkait niat rezim Iran terhadap komunitas Yahudi global dan menyebut Presiden Donald Trump sebagai sosok yang dipilih secara ilahi.
Dalam doa yang disampaikan secara terbuka tersebut, Graham menarik paralel sejarah dengan merujuk pada Kitab Ester. Ia menyebut bahwa secara historis, bangsa Persia--yang kini menjadi Iran--pernah memiliki rencana untuk menghancurkan seluruh orang Yahudi dalam satu hari.
"Bapa, Engkau memberi tahu kami dalam Kitab Ester bahwa orang Persia, orang Iran, ingin membunuh setiap orang Yahudi--perempuan, anak-anak--dan melakukannya dalam satu hari. Namun, Engkau membangkitkan Ester untuk menyelamatkan mereka," ujar Graham dalam penggalan doanya.
Ia kemudian menghubungkan narasi kuno tersebut dengan situasi geopolitik saat ini, dengan menuduh pemerintah Iran memiliki ambisi serupa menggunakan senjata nuklir. "Hari ini orang Iran--rezim jahat pemerintah ini--ingin membunuh setiap orang Yahudi dan menghancurkan mereka dengan api atom," tambahnya.
Selain pernyataan mengenai Iran, poin yang paling banyak menuai sorotan adalah penegasan Graham bahwa Donald Trump telah dibangkitkan oleh Tuhan untuk menghadapi krisis tersebut. Menggunakan frasa alkitabiah "for such a time as this" (untuk saat seperti ini), Graham meminta kemenangan bagi Trump dalam menghadapi konflik dengan Iran.
"Namun, Engkau telah membangkitkan Donald Trump. Engkau membangkitkannya untuk saat seperti ini. Bapa, kami berdoa agar Engkau memberinya kemenangan," ucapnya di hadapan hadirin di Gedung Putih.
"Kami berdoa untuk militer kami agar Engkau menjaga dan melindungi mereka. Kami berdoa untuk rakyat Iran yang menginginkan kebebasan, agar dibebaskan."
Pernyataan Graham segera memicu reaksi keras di media sosial dan kalangan komentator politik. Banyak pihak menilai penggunaan mimbar doa di Gedung Putih untuk melontarkan retorika perang dan klaim teologis yang memecah belah adalah tindakan yang tidak tepat.
Para kritikus berpendapat bahwa narasi api atom dan penyebutan rezim Iran sebagai entitas yang ingin melakukan genosida global dapat memperkeruh ketegangan diplomatik yang sudah panas. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi tambahan terkait respons negatif yang muncul di jagat maya. (Al Jazeera/I-2)
Gedung Putih mengunggah foto Raja Charles III dan Donald Trump dengan takarir "Dua Raja".
Melania Trump dan Ratu Camilla mendampingi suami mereka dalam kunjungan kenegaraan di Washington. Simak momen unik mereka saat mencoba teknologi AI di tengah tensi politik.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
Donald Trump nyaris menjadi korban upaya pembunuhan di acara tahunan Gedung Putih. Seorang pria bersenjata menerjang barikade keamanan sebelum akhirnya dilumpuhkan.
Menteri Pertama Skotlandia John Swinney menolak undangan jamuan kenegaraan Presiden AS Donald Trump demi kampanye pemilu parlemen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved