Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJELANG penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO dari Afghanistan, beberapa pekan ke depan, para penerjemah yang membantu pasukan asing di negara itu mengaku mereka berharap bisa ikut meninggalkan negara itu.
Kedutaan Besar AS telah mengeluarkan ribuan visa untuk penerjemah Afghanistan dan keluarga dekat mereka, tetapi tidak sedikit permohonan mereka yang ditolak. Beberapa permohonan tersebut ditolak karena alasan yang mereka katakan kurang jelas.
“Saat masjid tidak menjadi tempat yang aman untuk imam atau bocah perempuan berusia 10 tahun tidak aman bahkan di sekolah mereka, bagaimana kami bisa aman?” tanya Omid Mahmoodi, seorang penerjemah yang bergabung dengan pasukan AS sejak 2018 hingga 2020.
Baca juga: Israel Minta AS Dana US$1 Miliar untuk Isi Ulang Iron Dome
Pekerjaannya di Kabul dan benteng selatan Taliban di Kandahar berakhir setelah gagal dalam tes poligraf dan sejak saat itu visanya ditolak oleh pemerintah AS.
Para penerjemah yang gagal mendapatkan visa berharap hal itu bisa dipertimbangkan lagi karena mereka yakin Taliban akan memandang mereka sebagai kolaborator pasukan asing.
“Mereka melacak kita,” ungkap Mahmoodi terhadap AFP.
“Taliban tidak akan memaafkan kita. Mereka akan membunuh kita dengan memenggal kepala kita,” lanjutnya
Ketakutan tersebut juga dialami Omar (nama samaran) yang pernah bekerja untuk kedutaan AS selama 10 tahun tetapi kontraknya dihentikan karena gagal dalam tes poligraf.
“Saya menyesal bekerja untuk AS. Itu merupakan kesalahan terbesar saya,” ujar Omar kepada AFP yang meminta namanya disamarkan.
Sementara banyak penerjemah yang telah dibunuh dan disiksa selama dua dekade terakhir oleh militan, ancaman juga ternyata timbul dari rumah.
“Paman dan sepupu saya sendiri memanggil aku dengan sebutan agen AS” kata Omar.
Pada protes Kabul pekan lalu, seseorang berumur 32 tahun Waheedullah Hanifi berkata pemerintah Perancis menolak tawaran suakanya setelah mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak percaya ia sedang dalam bahaya.
Padahal dia sempat bekerja untuk militer Prancis dari 2010 hingga 2012, saat Paris menarik pasukan tempur mereka.
“Kami merupakan suara untuk pasukan Prancis di Afghanistan dan sekarang mereka menyerahkan kami kepada Taliban,” ujar ayah dua anak tersebut.
Saat ini, dia sedang dalam ketakutan akan diburu.
“Jika aku tetap menetap di negara ini, tidak akan ada kesempatan aku untuk selamat. Tentara Prancis telah mengkhianati kami.” (AFP/OL-1)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Pemerintahan Trump mengusulkan Visa Kartu Emas US$5 juta dan tarif untuk tekan utang AS senilai US$39 triliun. Simak analisis kelayakan dan dampaknya.
PERANG AS-Israel melawan Iran telah membuka aib rezim Donald Trump yang sesungguhnya.
Gedung Putih telah menyetujui setiap pertemuan antara Raja Charles III dan Trump akan berlangsung tanpa kamera, demikian dilaporkan surat kabar tersebut pada Senin (27/4).
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
Presiden AS Donald Trump merespons insiden penyerangan di Washington Hilton. Ia membantah isi manifesto pelaku dan meminta acara segera dijadwalkan ulang.
Setelah satu tahun ditahan tanpa dakwaan, peneliti bahasa AS Dennis Coyle akhirnya dibebaskan oleh Taliban.
Pakistan dan Afghanistan sepakat menghentikan sementara konflik maut demi menghormati Idul Fitri, menyusul serangan udara di Kabul yang menewaskan ratusan jiwa.
Pakistan telah menyerang pusat rehabilitasi di ibu kota, sehingga mengakibatkan kematian dan luka-luka. Dia berjanji bahwa tindakan tersebut tidak akan dibiarkan begitu saja.
Sebuah pusat rehabilitasi narkoba di Kabul hancur akibat serangan udara. Taliban tuduh Pakistan sebagai pelakunya, sementara ketegangan lintas batas meningkat.
Juru Bicara Taliban Zabiullah Mujahid mengecam serangan udara Pakistan di Kabul dan Kandahar. Kabul klaim lancarkan operasi balasan besar-besaran di perbatasan.
Pakistan melancarkan serangan udara ke Nangarhar dan Paktika di Afghanistan. Kabul menuduh warga sipil tewas dan terluka, sementara Islamabad mengklaim operasi menargetkan TTP dan ISKP.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved