Jalan di Depan Kedubes Tiongkok di AS akan Dinamai Li Wenliang

Basuki Eka Purnama
08/5/2020 11:21
Jalan di Depan Kedubes Tiongkok di AS akan Dinamai Li Wenliang
Foto Li Wenliang, dokter pertama yang memperingatkan mengenai pandemi covid-19, terlihat di kampus UCLA.(AFP/Mark RALSTON)

DPR Amerika Serikat (AS), Kamis (7/5), mengusulkan perubahan nama jalan di depan kedutaan besar Tiongkok menjadi nama mendiang dokter asal Wuhan yang memberikan peringatan mengenai covid-19, Li Wenliang. Langkah itu diperkirakan akan memancing kemarahan Beijing.

Langkah itu akan mengubah nama jalan di Washington yang berada di depan Kedutaan Besar Tiongkok menjadi Li Wenliang Plaza. Saat ini, jalan itu bernama International Place.

Li merupakan bagian dari kelompok dokter yang berbagi unggahan di media sosial pada Desember mengenai penyakit yang mulai menyebar di Wuhan.

Baca juga: Staf Gedung Putih Terinfeksi, Trump-Pence Negatif Covid-19

Dia kemudian ditegur polisi dan diminta menandatangani pernyataan tidak akan melakukan aksi yang disebut melanggar hukum.

Li meninggal dunia akibat covid-19 pada Februari memicu pernyataan duka secara nasional dan permintaan maaf langka dari polisi.

"Kami akan memastikan nama Li Wenliang tidak akan terlupakan dengan menempatkannya secara permanen di depan kedutaan besar negara yang bertanggung jawab atas kematiannya yang seharusnya bisa ditunda," ujar Senator Tom Cotton yang dikenal dengan sikap kerasnya terhadap Tiongkok.

DPR AS, pada 2014, pernah mengajukan perubahan nama jalan di depan Kedubes Tiongkok menjadi Liu Xiaobo, peraih Hadiah Nobel yang dipenjara karena menyerukan reformasi demokrasi.

Tiongkok mengecam upaya itu dan usulan itu akhirnya gagal karena Barack Obama mengatakan akan memveto usulan itu karena ingin menjaga hubungan dengan Beijing.

Hubungan AS dan Tiongkok memburuk sejak era Obama dengan anggota parlemen AS mendukung sikap keras terhadap Tiongkok.

Pemerintahan Presiden Donald Trump terus berupaya menyalahkan Tiongkok atas penyebaran pandemi covid-19 yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 250 ribu orang di dunia. (AFP/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya