Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) akan berkurang dalam beberapa bulan mendatang. Kedua belah pihak diketahui telah mencapai konsensus terhadap serangkaian masalah perdagangan.
Hal itu diungkapkan penasihat senior Partai Komunis. Meski terjadi kesepakatan, hubungan dua raksasa ekonomi tidak akan pernah sama lagi. Saat berbicara pada konferensi tahunan China South Morning Post, yang membahas masa lalu dan masa depan Tiongkok, asisten sekretaris jenderal China Institute for Innovation and Development Strategy, Xie Maosong, mengatakan pihaknya berharap Beijing dan Washington segera mengadakan pembicaraan lebih lanjut dalam tiga bulan ke depan, berdasarkan kesepakatan yang dicapai di Washington pekan ini.
Baca juga: Tukang Cukur Vietnam Tawarkan Cukur Gratis Ala Trump dan Kim
Selain perannya di lembaga think tank tingkat tinggi yang mencakup mantan pejabat, diplomat, jenderal militer dan pengusaha, sosok Xie merupakan profesor pembantu di Sekolah Partai Pusat, yang melatih kader partai senior.
Menyoroti masalah penahanan eksekutif Huawei, Meng Wanzhou, Xie optimistis bahwa anak pendiri Huawei tersebut akan dibebaskan dalam beberapa pekan mendatang. Pernyataan Xie keluar di hadapan lebih dari 350 anggota pemerintahan dan pemimpin perusahaan di Hong Kong.
Di sela-sela konferensi, Xie mengutarakan keyakinannya terhadap beberapa hal mengacu tindakan yang diambil pemerintah Tiongkok, khususnya penahanan dua warga Kanada yang dituding membahayakan keamanan negara. Langkah itu tidak lain bertujuan menekan pemerintah Kanada yang menahan eksekutif Huawei. Seperti diketahui, Meng Wanzhou ditahan pada 1 Desember atas permintaan AS. Saat ini, dia berada dalam jaminan Vancouver.
Pada Januari, pejabat penegak hukum AS mengajukan 23 tuntutan pidana terhadap Huawei dan Meng Wanzhou. Di antaranya terkait pencucian uang, penipuan, konspirasi dan pencurian kekayaan intelektual. Pernyataan Xie mengemuka tak lama setelah Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok, Liu He, tiba di AS untuk menghadiri pembicaraan perdagangan tingkat tinggi. Tim negosiasi AS dipimpin oleh Menteri Keuangan Steve Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer. Liu merupakan utusan khusus Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang akan membahas peluang nota kesepahaman untuk menunda perang dagang antara kedua negara.
Lebih lanjut, Xie menuturkan keyakinannya bahwa AS-Tiongkok dapat menyelesaikan beberapa perbedaan, meski prosesnya terbilang rumit. "AS tidak akan menghapus semua kebijakan tarifnya, karena ingin menyisakan ruang untuk negosiasi. Kemungkinan, akan ada putaran pembicaraan lagi. Pada Juni nanti, sebagian besar tarif untuk komoditas Tiongkok senilai US$ 250 miliar akan dicabut," ucap Xie.
Sejauh ini, kata dia, Tiongkok bersedia membuat konsesi perdagangan. Mengingat, surplus perdagangan Tiongkok relatif besar, hal tersebut dinilai tidak akan membuat perubahan struktural. "AS bisa mendapatkan beberapa manfaat dari aspek perdagangan, tapi harus mengakui adanya masalah struktur ekonomi," pungkas Xie seraya menekankan konsesi perdagangan penting bagi Tiongkok untuk "mendapatkan waktu penyangga" di tengah pelambatan ekonomi.
Di lain sisi, Presiden AS Donald Trump kemungkinan ingin mencapai kesepakatan perdagangan, guna membantu kampanye pemilihan presiden pada akhir tahun ini. "Pada kesempatan itu, Trump bisa mengklaim keberhasilannya dalam menyelesaikan konflik perdagangan AS-Tiongkok," papar Xie.
Ekonomi AS diperkirakan memasuki siklus resesi tahun ini, setelah mencapai pertumbuhan tinggi selama satu dekade. Anjloknya bursa saham akhir tahun lalu, menjadi awal pelemahan ekonomi. Bagaimanapun mencuatnya konflik dagang telah mengungkap banyak persoalan di Tiongkok, sekaligus mendorong reformasi lebih dalam untuk 10 atau 20 tahun ke depan. Kondisi tersebut juga mencerminkan hubungan kedua negara telah berubah, meski tidak dapat terputus. Xie menambahkan persaingan jangka panjang AS-Tiongkok, berikut ruang kerja sama yang terbatas, tidak bisa dihindari. Apalagi, AS enggan melepaskan sebagian dominasi globalnya.
"Kebangkitan Tiongkok merupakan mimpi buruk bagi AS. Bukan karena Tiongkok akan menjadi faktor yang tidak dapat diprediksi atau tidak pasti seperti yang diklaim AS. Sebaliknya, AS akan kehilangan hegemoni yang dinikmati secara tidak biasa di banyak area. Itulah mengapa sulit untuk optimis mengenai hubungan Tiongkok-AS," urai Xie.
Baca juga: Kebakaran Apartemen di Dhaka, Sedikitnya 70 Orang Tewas
Relasi kedua negara telah berubah, pun AS dikatakannya menggunakan berbagai cara untuk mengendalikan Tiongkok. Meski skala konflik berkaitan dengan AS, namun perhatian utama Tiongkok lebih bersifat domestik.
"Apabila Tiongkok tidak dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam 10 tahun ke depan, negara ini akan menghadapi banyak masalah. Hal itu tidak boleh terjadi," tegasnya yang menekankan 15-20 mendatang menjadi periode krusial.(Southchinamorningpost/OL-6)
Menurut Menbud RI, tahun lalu, Indonesia memproduksi sekitar 250 film dengan penonton lebih dari 80 juta. “Film kita punya potensi besar untuk go international “ ujarnya.
Ilmuwan Tiongkok identifikasi dua mineral langka, magnesiochangesite-(Y) dan changesite-(Ce), dari sampel Bulan misi Chang’e-5. Simak dampaknya bagi sains.
National Gallery Singapore menghadirkan pameran retrospektif pertama He Xiangning di Asia Tenggara, menampilkan 50 karya seni tinta legendaris.
Pakar ITB Yannes Martinus Pasaribu ungkap alasan mobil Tiongkok ungguli merek Jepang di pasar Indonesia, mulai dari fitur melimpah hingga insentif EV.
Pihak Imigrasi mengamankan 29 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok dalam operasi gabungan di kawasan Marina City Waterfront, Batam.
Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan yang terletak di wilayah tengah dan barat daya Tiongkok, direncanakan menjadi lokasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved