Trump Klaim Perundingan AS-Tiongkok Berjalan Kondusif

Tesa Oktiana Surbakti
20/2/2019 10:36
Trump Klaim Perundingan AS-Tiongkok Berjalan Kondusif
(AFP)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan negosiasi perdagangan dengan Tiongkok terbilang rumit namun tetap berjalan kondusif. Dia pun mengisyaratkan batas waktu gencatan senjata perang dagang yang jatuh 1 Maret 2019, dapat diperpanjang.

Sejumlah pejabat pemerintah AS dan Tiongkok kembali melakukan perundingan pada Selasa (19/2) waktu setempat. Negosiasi bilateral bertujuan mengakhiri perang tarif yang mengganggu perekonomian kedua negara ekonomi raksasa.

"Saya pikir perundingan berjalan sangat baik," ujar Trump di sela-sela acara di Gedung Putih. Akan tetapi, dia menyebut negosiasi antara kedua negara tergolong sangat kompleks.

Setelah perundingan putaran ketiga di Beijing berakhir tanpa kesepakatan, Trump berharap batas waktu gencatan senjata diperpanjang agar terjadi kesepakatan. Apabila jangka waktu tidak diperpanjang, pemerintah AS akan menggadakan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok senilai US$200 miliar.

"Saya belum bisa memberi tahu Anda secara pasti mengenai batas waktu. Yang jelas tanggal tersebut bukan tanggal ajaib. Banyak hal bisa terjadi. Kita akan lihat," tukas Trump kepada wartawan.

Baca juga: Pembicaraan Dagang AS-Tiongkok Dilanjutkan di Gedung Putih

Pernyataan Trump memberikan sentimen positif bagi investor, serta meningkatkan kepercayaan bahwa konflik dagang akan berakhir. Pergerakan harga saham AS pun mengalami kenaikan. Senada, pergerakan pasar saham London, Frankfurt dan Tokyo, juga menguat.

Seperti diketahui, para pejabat senior mengadakan putaran negosiasi pada Kamis (14/2) dan Jumat (15/2) lalu. Namun, pertemuan tingkat perwakilan dilaksanakan pada Selasa (19/2).

Trump sempat menegaskan pihaknya bersedia menunda kenaikan tarif impor dari 10% menjadi 25% pada komoditas Tiongkok, asalkan terdapat perkembangan signifikan dalam perundingan bilateral tersebut.

Sebelumnya, AS menunding Tiongkok berupaya mendominasi industri global melalui serangkaian praktik perdagangan yang tidak adil, termasuk pencurian kekayaan intelektual AS. Washington pun ingin mengurangi defisit perdagangan dengan Tiongkok.

"Perundingan ini bertujuan mencapai perubahan struktural yang perlu dilakukan Tiongkok, untuk memperbaiki perdagangan bilateral dengan AS," bunyi pernyataan resmi Gedung Putih.

Bloomberg melaporkan Gedung Putih juga mencari komitmen dari Tiongkok, guna menjaga mata uangnya dari depresiasi terhadap dolar AS, yang diyakini mampu menangkal dampak pemberlakuan tarif.

Berdasarkan sumber yang akrab dengan negosiasi, persoalan nilai tukar kerap dibahas dan AS diketahui memiliki kekuatan untuk mengenakan tarif yang lebih tinggi dalam merespons pelemahan yuan.

Kepala ekonom Institute for International Finance, Robin Brooks, menekankan penurunan nilai tukar yuan atau juga dikenal sebagai renminbi (RMB) sebesar 6% terhadap dolar AS, menangkal dampak dari dua putaran tarif AS terhadap komoditas Tiongkok dengan total nilai US$ 250 miliar. Brooks memandang nilai RMB masih rendah secara signifikan.

Beijing dan Washington melemparkan serangan tarif yang menyasar komoditas lebih dari US$360 miliar dalam perdagangan dua arah. Konflik perdagangan itu telah membebani sektor manufaktur kedua negara dan mengguncang pasar keuangan global.

Sejak memutuskan gencatan senjata, Desember lalu, Tiongkok melanjutkan pembelian komoditas kedelai dari AS, berikut komoditas lainnya. Langkah Tiongkok mendorong perundingan dengan AS lebih dekat dengan kesepakatan.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer akan memimpin delegasi AS. Di antaranya mencakup Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross, penasihat kebijakan ekonomi Larry Kudlow dan penasihat perdagangan Peter Navarro.

Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan delegasinya akan dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok Liu He, yang merupakan negosiator perdagangan utama Beijing, berikut pembantu utama Presiden Tiongkok Xi Jinping. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya