Gedung Putih Pastikan Negosiasi Dagang dengan Tiongkok Kondusif

Tesa Oktiana Surbakti
23/1/2019 10:26
Gedung Putih Pastikan Negosiasi Dagang dengan Tiongkok Kondusif
(AFP)

GEDUNG Putih menegaskan negosiasi tingkat tinggi dengan Tiongkok berjalan kondusif. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menepis laporan media yang menyebut upaya penyelesaian perang dagang antara kedua negara mengalami hambatan.

Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok Liu He akan bertemu dengan perwakilan dari AS di Washington pekan depan.

Setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat untuk gencatan senjata, kedua belah pihak berusaha mengurai konflik dagang hingga 1 Maret 2019. Berdasarkan kesepakatan, genjatan senjata berlangsung selama 90 hari.

Washington dan Beijing saling memberlakukan tarif impor yang menyasar pada komoditas senilai lebih dari US$360 miliar pada tahun lalu. Pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Trump memprakarsai perang dagang, karena mengeluhkan praktik perdagangan Tiongkok yang dinilai tidak adil. Kekhawatiran serupa juga dirasakan Uni Eropa, Jepang, dan negara lainnya.

Baca juga: AS Upayakan Ekstradisi Meng Wanzhou

Pada Selasa (22/1) waktu setempat, Financial Times dan CNBC melaporkan pemerintah AS membatalkan pertemuan pendahuluan yang ditetapkan pekan ini, sebelum Wakil PM Tiongkok mengunjungi Washington.

Mengutip sumber dari pemerintah AS, negosiasi pada masalah paling sulit dalam perselisihan dagang, kurang mengalami kemajuan. Di antaranya mengenai ketentuan transfer teknologi dan reformasi struktural jangka panjang dalam ekonomi Tiongkok.

Laporan pemberitaan tersebut mengguncang bursa saham AS, Wall Street, ke arah zona merah. Wall Street bahkan dibuka melemah seiring pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Tidak lama sebelum penutupan perdagangan di New York, pembantu ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dengan datar membantah laporan dari beberapa media.

"Dengan segala hormat, laporan tersebut tidak benar. Tidak ada pembatalan terhadap pertemuan yang sudah direncanakan," ujar Kudlow.

Setelah pernyataannya keluar, indeks harga saham AS mulai pulih namun masih berada pada level yang rendah.

Kembali ditekankan Kudlow, AS terus mendesak Tiongkok menyelesaikan masalah kekayaan intelektual dan intervensi negara di pasar. Dia juga mengatakan para pejabat AS bersikeras perjanjian apapun harus memiliki kekuatan untuk memastikan kepatuhan Beijing.

"Penegakan sangat penting agar pembicaraan ini berhasil. Apakah itu akan selesai pada akhir bulan? Saya tidak tahu. Saya tidak berani memprediksi, dan ingin memastikan publik memahami betapa pentingnya negosiasi yang berlangsung," tegas dia.

Apabila kedua belah pihak gagal mencapai resolusi perang dagang, tarif bea masuk yang dikenakan AS untuk komoditas Tiongkok senilai US$200 miliar, akan naik dari 10% menjadi 25%. Prospek tersebut telah mengguncang pasar global dalam beberapa bulan terakhir.

Sepanjang 2018, ekonomi Tiongkok mencatat pertumbuhan paling lambat dalam tiga dekade. Pelemahan itu menggarisbawahi kekhawatiran Tiongkok bahwa konflik dagang dengan AS dapat menggerogoti kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, serta merusak pertumbuhan ekonomi global dalam prosesnya. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya