Sentuhan Ayah di Tahun Pertama, Kunci Kesehatan Jantung Anak di Masa Depan

Thalatie K Yani
26/4/2026 14:00
Sentuhan Ayah di Tahun Pertama, Kunci Kesehatan Jantung Anak di Masa Depan
Ilustrasi(freepik)

MENJADI orangtua baru sering kali terasa seperti menjalankan misi tanpa buku panduan. Namun, sebuah penelitian terbaru memberikan alasan kuat bagi para ayah untuk lebih terlibat sejak dini. Interaksi antara ayah dan bayi di tahun pertama ternyata meninggalkan "jejak fisik" pada kesehatan sang anak yang bertahan hingga bertahun-tahun kemudian.

Studi yang dilakukan tim dari Penn State’s College of Health and Human Development ini melacak kondisi keluarga sejak bayi berusia 10 bulan hingga masuk sekolah dasar. Hasilnya mengejutkan,  ayah yang hangat dan responsif di masa bayi membantu menciptakan hubungan kerja sama orang tua (co-parenting) yang lebih harmonis. Dampaknya, saat mencapai usia tujuh tahun, anak-anak tersebut memiliki indikator kesehatan darah yang lebih baik.

Bukan Sekadar Perasaan, Tapi Data Medis

Penelitian ini tidak mengandalkan survei subjektif, melainkan observasi langsung di rumah. Para peneliti merekam momen bermain orangtua dan anak, lalu mengevaluasi seberapa cepat dan hangat respons yang diberikan.

Ketika anak-anak tersebut menginjak usia tujuh tahun, peneliti mengambil sampel darah untuk mengukur kadar kolesterol, gula darah (HbA1c), dan tingkat peradangan (CRP). Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki ayah kurang peka di masa kecil cenderung memiliki kadar gula darah dan peradangan yang lebih tinggi.

“Siapa pun tidak akan terkejut mengetahui bahwa memperlakukan anak dengan hangat itu baik bagi mereka,” ujar Profesor Hannah Schreier, penulis senior studi ini. “Namun, fakta bahwa perilaku ayah, sebelum bayi cukup dewasa untuk membentuk ingatan permanen, dapat memengaruhi kesehatan fisik anak di kelas dua sekolah dasar, adalah hal yang mengejutkan.”

Mengapa Peran Ayah Begitu Signifikan?

Selama ini, peran ibu selalu menjadi fokus utama dalam perkembangan anak. Namun, studi ini menunjukkan dinamika yang berbeda dalam sistem keluarga. Alp Aytuglu, salah satu peneliti utama, menegaskan bahwa ini bukan berarti peran ibu tidak penting.

“Intinya adalah, dalam keluarga dengan sosok ayah di rumah, ayah memengaruhi lingkungan dengan cara yang dapat mendukung, atau justru merusak, kesehatan anak selama bertahun-tahun ke depan,” jelas Aytuglu.

Menariknya, kehangatan ibu pada usia 10 bulan tidak memprediksi kesehatan fisik anak di usia tujuh tahun dengan cara yang sama seperti perilaku ayah. Peneliti menduga hal ini karena ibu sering kali menjadi pengasuh utama yang menetapkan "garis standar" harian, sementara perilaku ayah bisa memperkuat atau justru mengganggu dinamika tersebut, sehingga pengaruhnya menjadi sangat terlihat pada sistem biologis anak.

Investasi Masa Depan dari Lantai Ruang Tamu

Profesor Jennifer Graham-Engeland menambahkan kekuatan studi ini terletak pada data objektif. “Data ini memungkinkan kita melihat lebih dekat kehidupan keluarga serta hubungan interaksi tersebut dengan indikator kesehatan biologis di masa depan,” ungkapnya.

Pesan bagi para orangtua sangat jelas, momen-momen kecil saat bermain di lantai ruang tamu bukan sekadar mengisi waktu luang. Interaksi tersebut adalah investasi kesehatan jangka panjang. Mendukung peran ayah dalam rumah tangga berarti mendukung masa depan kesehatan anak yang lebih cerah.

Studi lengkap ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal Health Psychology. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya