Tren 'One and Done', Mengapa Milenial Kini Lebih Memilih Satu Anak?

Thalatie K Yani
21/4/2026 13:30
Tren 'One and Done', Mengapa Milenial Kini Lebih Memilih Satu Anak?
Ilustrasi(freepik)

BAGI banyak pasangan milenial, impian memiliki keluarga besar dengan banyak anak kini mulai berbenturan dengan realita ekonomi yang keras. Istilah "one and done", keputusan untuk hanya memiliki satu anak, kian populer seiring dengan meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian lapangan kerja.

Sebuah jajak pendapat Gallup tahun 2023 menunjukkan meski 45% orang dewasa di AS menganggap tiga anak atau lebih adalah jumlah ideal, kenyataan di lapangan berkata lain. Tingkat kesuburan terus menurun sejak Resesi Besar 2007. Di tahun 2024, angka tersebut berada di level 1,7, jauh di bawah tingkat penggantian populasi.

Beban Ekonomi yang Setara Cicilan Rumah

Dr. Kent Bausman, profesor sosiologi di Maryville University, mengungkapkan faktor struktural seperti meroketnya harga hunian dan biaya perawatan kesehatan menjadi penghalang utama.

“Bagi banyak generasi milenial, memiliki banyak anak terasa mustahil secara finansial,” jelas Dr. Bausman. Ia menambahkan biaya kumulatif untuk menambah satu anak lagi seringkali sebanding dengan menambah satu cicilan hipotek rumah baru.

Selain biaya operasional harian, kurangnya dukungan cuti berbayar bagi orangtua juga memaksa pasangan untuk memilih antara karier atau menambah anggota keluarga. Setu Shah, pendiri Financial Doula, mencatat bahwa tanpa penitipan anak yang terjangkau, orang tua harus mengorbankan pendapatan atau gaya hidup mereka.

Tekanan Media Sosial dan Beban Mental

Bukan hanya soal uang, beban mental atau "mental load" dalam mengasuh anak juga meningkat drastis. Media sosial menciptakan standar pengasuhan yang tidak realistis melalui ajang pamer aktivitas anak.

“Hal itu menjadi permainan perbandingan,” kata Shah. “Melihat influencer di Instagram memamerkan anak-anak mereka yang berkembang di berbagai aktivitas dapat memberi tekanan pada orang tua biasa untuk melakukan hal yang sama, yang mana memakan waktu dan biaya.”

Menghapus Stigma Anak Tunggal

Banyak orangtua khawatir bahwa anak tunggal akan merasa kesepian atau kurang keterampilan sosial. Namun, Rebecca Minor, seorang terapis, membantah anggapan tersebut. Menurutnya, keterampilan sosial tidak hanya didapat dari saudara kandung, tetapi bisa berkembang melalui pertemanan dan sekolah.

“Anak-anak lebih mungkin mempelajari navigasi sosial melalui persahabatan, pengaturan kelompok seperti penitipan anak dan sekolah, atau melalui interaksi dengan orang dewasa,” ujar Minor.

Bahkan, menjadi anak tunggal menawarkan keuntungan tersendiri, seperti ikatan yang lebih dalam dengan pengasuh, perhatian individu yang maksimal, serta kemandirian dan kreativitas yang lebih terasah.

Keputusan untuk memiliki satu anak kini bukan lagi sekadar pilihan darurat, melainkan bentuk pengasuhan yang lebih sadar dan terencana. Pada akhirnya, rasa memiliki dan kebahagiaan sebuah keluarga tidak ditentukan oleh seberapa banyak jumlah orang di dalam rumah, melainkan seberapa kuat koneksi yang terjalin di dalamnya. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya