Revitalisasi Cagar Budaya Harus Berdampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat

Putri Rosmalia Octaviyani
25/4/2026 19:15
Revitalisasi Cagar Budaya Harus Berdampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat
Kondisi situs cagar budaya Aceh Tamiang pascabencana.(Dok. Antara)

REVITALISASI cagar budaya, khususnya keraton di Nusantara, tidak boleh hanya berhenti pada perbaikan fisik bangunan. Upaya pemugaran tersebut harus mampu memberikan timbal balik yang nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun pelestarian nilai budaya lokal.

Hal tersebut ditegaskan oleh akademisi dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Athoillah. Ia menyatakan bahwa revitalisasi harus mengintegrasikan aspek economic revitalisation dengan environmental objective.

“Bahwa memang revitalisasi itu harus ada aspek yang disebut economic revitalisation tapi juga ada konsep environmental objective. Jadi memang harus ada keseimbangan antara lingkungan dan perekonomian,” ujar Ahmad dalam sebuah diskusi mengenai revitalisasi keraton Nusantara di Jakarta, Jumat (24/4).

Konservasi Nilai Tradisi dan Sosial

Menurut Ahmad, terdapat unsur krusial dalam revitalisasi cagar budaya, yakni konservasi nilai tradisi dan sosial. Tindakan revitalisasi diharapkan mampu menyertakan "kehidupan baru" yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern tanpa menghilangkan identitas sejarahnya.

“Bagaimana revitalisasi itu bisa menarik peran masyarakat? Ya memang harus ada aspek ekonomi. Kedua, aspek sosial bagaimana semangat gotong royong bangkit, dan juga aspek budaya,” tambahnya.

Model Revitalisasi Berbasis Kawasan

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan bahwa model revitalisasi masa kini tidak boleh terpaku hanya pada struktur bangunan semata. Ia mendorong penerapan model yang berbasis pada restorasi historis, eco cultural tourism, dan lanskap budaya.

Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, revitalisasi diharapkan tidak hanya memberikan keuntungan finansial melalui sektor pariwisata, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa. Partisipasi publik menjadi kunci agar cagar budaya tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya