Riset BRIN dan UGM: Daun Kenanga Berpotensi Atasi Diabetes

Atalya Puspa    
14/4/2026 15:09
Riset BRIN dan UGM: Daun Kenanga Berpotensi Atasi Diabetes
Pohon kenanga.(Dok. Lindungi Hutan)

TANAMAN kenanga yang selama ini dikenal sebagai bahan baku parfum dan kosmetik ternyata menyimpan potensi medis yang menjanjikan. Penelitian kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) membuktikan ekstrak daun kenanga memiliki aktivitas antidiabetes dan antioksidan yang signifikan.

Peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Nuning Rahmawati, mengatakan ekstrak etanol daun kenanga mampu menghambat aktivitas enzim dipeptidyl peptidase-4 hingga 67,4 persen, dengan standar baku sitagliptin — salah satu obat diabetes yang umum digunakan.

"Kenanga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis herbal modern, mengingat kandungan metabolit sekundernya yang memiliki aktivitas antibakteri, antidiabetes, antioksidan, dan berbagai aktivitas farmakologi lainnya," kata Nuning, Selasa (14/4).

Selain antidiabetes, penelitian yang dipublikasikan di Journal of Animal and Plant Sciences itu juga mengungkap potensi antioksidan kenanga yang kuat, ditunjukkan dari nilai IC50 sebesar 42,14 µg/mL. Kandungan senyawa aktif seperti ocimene, linalool, germacrene D, dan β-caryophyllene di daun kenanga turut memperkuat bukti empiris yang selama ini diyakini masyarakat dalam memanfaatkan tanaman ini sebagai obat alami.

Menariknya, bagian yang diteliti bukan bunga yang selama ini menjadi primadona industri parfum, melainkan daun. Selain mudah diperoleh, penggunaan daun dinilai tidak merusak tanaman. Data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu mencatat kenanga telah digunakan 36 pengobat tradisional dari 28 etnis di 16 provinsi untuk menangani lebih dari 18 jenis penyakit, dengan penyakit kulit sebagai yang paling dominan.

Di balik potensinya, Nuning mengingatkan adanya tantangan serius. Lebih dari 60 persen kenanga yang digunakan pengobatan tradisional di Indonesia masih diambil dari alam liar, bukan hasil budidaya. Kondisi ini berpotensi mengancam keberlanjutan tanaman jika pemanfaatannya terus meningkat tanpa diimbangi upaya pelestarian.

"Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan terkait efektivitas dan keamanan kenanga sebagai bahan obat modern," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, ekstrak daun kenanga telah diusulkan sebagai paten sederhana di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dengan nomor pendaftaran S00202509607 per 17 Oktober 2025. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya