Terumbu Karang Laut Dalam Galápagos Pernah Lenyap 1.000 Tahun, Ini Penyebabnya!

Thalatie K Yani
23/4/2026 12:45
Terumbu Karang Laut Dalam Galápagos Pernah Lenyap 1.000 Tahun, Ini Penyebabnya!
Penelitian terbaru mengungkap ekosistem karang laut dalam Galápagos pernah runtuh total akibat fase La Niña kuno. (Schmidt Ocean Institute)

SELAMA ini, laut dalam sering dianggap sebagai zona aman yang terlindungi dari gejolak iklim di permukaan. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan: ekosistem karang kuno di perairan Galápagos ternyata pernah runtuh dan lenyap sepenuhnya selama lebih dari satu milenium sebelum akhirnya muncul kembali.

Penelitian yang dipimpin University of Bristol ini merekonstruksi sejarah kehidupan karang laut dalam selama 117.000 tahun. Tim peneliti menganalisis lebih dari 900 fosil karang batu yang diambil dari kedalaman hingga 1.000 meter. Menggunakan metode penanggalan uranium-torium, mereka berhasil menyusun catatan ekosistem paling mendetail yang pernah ada.

Titik Nadir di Kedalaman Laut

Meski berhasil bertahan melewati Zaman Es dan pemanasan global setelahnya, ekosistem ini mencapai titik hancur sekitar 5.000 tahun lalu. Selama lebih dari 1.000 tahun, karang-karang ini menghilang dari catatan fosil. Penemuan ini menunjukkan laut dalam jauh lebih sensitif terhadap pergeseran iklim daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Para peneliti mengidentifikasi fenomena La Niña yang berkepanjangan sebagai penyebab utamanya, bukan El Niño yang biasanya menyiksa terumbu karang dangkal.

"Hilangnya karang bertepatan dengan fase La Niña yang berkepanjangan," ujar Joseph Stewart, penulis utama sekaligus pengajar di University of Bristol. "Selama waktu itu, sirkulasi laut yang lebih kuat membawa air dalam yang kaya nutrisi ke permukaan, yang kemungkinan menyebabkan rendahnya kadar oksigen di kedalaman, sehingga menyulitkan karang laut dalam untuk bertahan hidup."

Peringatan dari Masa Lalu

Temuan ini mengubah cara pandang ilmuwan terhadap stres ekosistem laut. Jika terumbu karang dangkal terancam oleh gelombang panas saat El Niño, karang laut dalam justru rentan terhadap hilangnya oksigen akibat perubahan sirkulasi air saat La Niña.

"Memahami usia kuno ekosistem ini, sensitivitasnya terhadap perubahan, dan waktu berabad-abad yang dibutuhkan untuk pulih dari gangguan akan sangat penting bagi upaya konservasi," tegas rekan penulis, Laura Robinson.

Meskipun karang-karang tersebut akhirnya kembali, proses pemulihannya memakan waktu berabad-abad. Di tengah pemanasan global yang berlangsung cepat saat ini, skala waktu pemulihan alami tersebut jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan manusia dalam mengubah planet.

Implikasi Bagi Kawasan Konservasi

Studi yang diterbitkan dalam jurnal PNAS ini menjadi landasan penting bagi pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (MPA). Stuart Banks dari Charles Darwin Foundation menekankan perlunya melindungi dasar laut dalam untuk mendukung konektivitas alami antarhabitat.

Pesan utamanya jelas: laut dalam bukanlah cadangan dunia yang stabil dan kebal. Ia memiliki titik kritis dan kerapuhannya sendiri. Terkadang, peringatan paling jelas tentang masa depan justru datang dari apa yang pernah lenyap di kegelapan masa lalu. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya